Sejarah

Haji Bilal, Konglomerat Batik dari Yogyakarta di Masa Kolonial


13 June 2020, 19:59
Dilihat   2.0K

Nusantarakini.com, Yogyakarta – 

Dapat kiriman buku dari salah satu mentorku semasa aktif di kampus dulu. Bang Salman Dianda Anwar, mantan tokoh aktivis kampus UGM dan pegiat kelompok studi CSCD.

Alhamdulillah. Senang rasanya. Masih diingat. Bahkan masih dikirimi hadiah segala. Biasanya murid yang selalu ingat gurunya. Meski kebanyakan justru lebih sering lupanya. Ini malah guru yang ingat sama muridnya.

Buku yang dikirim adalah sejarah tentang Batik Yogya. Dimulai jauh di masa penjajahan. Jauh sebelum kemerdekaan. Bahkan sangat jauh lagi di masa Sultan HB I dan setelah terjadinya Perjanjian Gianti.

Nah, salah satu dibahas di buku ini adalah salah satu pelopor industri batik Yogya di masa penjajahan Belanda. Yakni, Haji Bilal. Yang saat itu punya industru batik terbesar yang berlokasi di Taman Yoewana, yang sekarang berubah nama menjadi Jalan Dagen. Sampai sekarang nama Haji Bilal masih dikenal oleh para pedagang batik di kawasan Malioboro sebagai tokoh legendaris batik yang namanya tak akan bisa lenyap dari sejarah.

Pegawainya hampir mencapai 700 orang. Kantornya pun megah, hanya 500 meter dari Kraton Yogya. Dan kantor itu masih ada sampai sekarang. Hanya bentuknya saja sudah berubah, menjadi hotel. Hotel Yogya Kembali di Jalan Ahmad Dahlan, dekat kantor redaksi Majalah Suara Muhammadyah. Haji Bilal bisa dibilang konglomeratnya batik pada masanya.

Di masa-masa perjuangan, Haji Bilal banyak membantu tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan. Banyak rumahnya disediakan gratis untuk tempat menginap tokoh-tokoh politik yang sedang melakukan rapat atau perundingan di Yogya. Pernah 24 rumahnya dipinjamkan semua untuk tempat menginap para pejuang kemerdekaan. Moehamad Roem, Kasman Singodimedjo, AR Baswesan, Wachid Hasyim, dan banyak lagi tokoh politik yang difasilitasi Haji Bilal selama punya urusan di Yogya.

Buku ini memang menarik. Apalagi di bagian lampiran, banyak disertakan dokumentasi contoh-contoh cara beriklan Haji Bilal ketika memasarkan batiknya hingga dikenal ke seluruh Indonesia. Ada iklan koran, ada iklan dengan brosur, dengan bahasa yang cukup sensasional pada masanya. Padahal Haji Bilal pasti tidak pernah kuliah di jurusan advertising!

Saya salut sama dua penulis buku ini. Yang mau bersusah payah membongkar dokumentasi koran, buku, kliping di tahun 1800-an yang kini telah jadi arsip di berbagai tempat. Pekerjaan yang pasti tidak gampang.

Saya belum membaca keseluruhan isi buku ini. Tapi, sekilas membacanya sangat menarik. Mungkin inilah buku paling komplit dan otentik tentang sejarah Batik Yogya yang ditulis dengan menelusuri sejarah pelakunya. Lewat cucu-cucunya yang masih hidup dan menyimpan banyak dokumentasi aslinya.

Buku menarik ini juga bisa dibeli di toko-toko buku. Atau langsung ke penerbitnya Renebook Publishing lewat Bang Luqman Hakim Arifin. Buku ini kata pengantarnya ditulis oleh HM Jusuf Kalla yang ayahnya dulu adalah sesama saudagar besar pada masa itu dan Anies Rasyid Baswedan, yang kakeknya dulu diminta menempati rumah Haji Bilal sampai akhir hayatnya.

Menurut saya, para penggemar batik atau pecinta kota Yogya wajib membaca atau mengoleksi buku ini. Sebuah buku sejarah batik yang digarap dengan sangat serius, referensial dan otentik. [mc]

*Among Kurnia Ebo, Penulis Kreatif dan Mentor KapOrit Enterpreneur University.

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!