Nasional

Penerapan Kebijakan New Normal, Upaya Dilematis Mengatasi Pandemi Covid-19


31 May 2020, 17:31
Dilihat   2.1K

Nusantarakini.com, Jakarta – 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi instruksi terkait new normal (tatanan kehidupan baru) ditengah-tengah Pandemi Covid-19 di 4 Propinsi dan 25 Kabupaten/kota seluruh Indonesia. Kebijakan new normal akan diberlakukan esok hari 1 Juni 2020 dengan dukungan TNI/Polri untuk mendisiplinkan warga dalam skema kehidupan baru/transisi.

Praktisi Star-up Digital, Nur Rakhman masih mempertanyakan apakah kita akan mengambil strategi karantina, PSBB atau akan memilih prioritas kesehatan. Sehingga akhirnya diatasi dengan memunculkan gagasan new normal ini.

“Grafik Indonesia sebenarnya belum melandai, trennya masih naik terus. Namun Indonesia berani mengambil kebijakan New Normal mulai 1 Juni besok? Sehingga beberapa daerah memberikan tanggapan yang berbeda-beda. Seperti Yogyakarta merasa sudah aman, sedangkan Jakarta masih belum siap,” tutur Nur Rakhman dalam diskusi webinar dengan tema “Catatan Kaum Muda untuk New Normal” Sabtu malam (31/5/2020).

Nur Rakhman melihat bahwa kebijakan New normal ini diambil karena ekonomi akan masuk jurang resesi dan krisis. Yang menurutnya harus menjadi perhatian kita bersama. New Normal, lanjut dia, masih melakukan fisical distancing. Hal yang dulunya dianggap tidak wajar sekarang dianggap wajar.

“Sekarang orang kalau ngomong memakai masker sudah dianggap wajar, kalau sebelumnya kan bisa dianggap tidak sopan,” tuturnya.

Menurut Nur Rakhman, dalam konteks global, nantinya orang akan terbiasa menggunakan Internet dalam kehidupan, seperti jual beli dll. Dunia sudah terkoneksi, dimana koneksi fisik semakin berkurang sedangkan koneksi siber semakin berkembang di era Covid-19 ini.
Kebutuhan internet tinggi, problemnya kecepatan Internet kita beda jauh dibandingkan dengan di Singapura dan Malaysia.

Sementara itu, terkait tatanan kehidupan baru alias New Normal ini, Pelaku bisnis yang juga mantan Ketua Umum Pelajar Islam Indonesia (PII) Munawar Khalil menggarisbawahi dua hal yang bertolak belakang, yaitu dari aspek kesehatan dan aspek ekonomi.

Menurut Munawar, dari aspek kesehatan, sebenarnya kita tidak dikasih akses luas, dengan diterapkannya PSBB, tapi masih melakukan sholat di masjid. Dari aspek ekonomi, PAD DKI 50% hilang, sehingga jelas sangat terkena dampak ekonomi. Sehingga lebih berat ekonomi daripada menyelamatkan nyawa manusia.

“Prosedur yang paling penting adalah menjaga tangan dan mulut kita (hidung). Harus memakai masker dan sarung tangan untuk mencegah penyebaran Covid-19,” jelas Munawar dalam acara webinar dengan kemasan Halal Bihalal yang dipandu Karman BM, Mantan Ketua Umum PP GPII ini.

Narasumber lain, Aktivis Internasional, Beni Pramula menyampaikan bahwa pandemi covid-19 menciptakan perubahan yang drastis pada pola kehidupan manusia. Sebuah bukti bahwa sekarang negara-negara sedang latah dengan isu New Normal, termasuk Indonesia. Itu bukti kegagalan berbagai negara mengatasi wabah ini.

“New Normal merupakan campuran, dari kondisi normal sebelum pandemi dengan kondisi tidak normal era pandemi, dengan membuka sosial baru,” tutur Beni.

“Apakah langkah-langkah itu sudah disiapkan pemerintah, seperti mencuci tangan, pakai masker, social distancing? Apakah sudah dipatuhi masyarakat sehingga kebijakan ini tidak absurd dan mengorban tenaga-tenaga medis dengan era new normal nanti,” pungkas Beni dengan sedikit bertanya. [mc]

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!