Analisa

Kaum Muslimin Terbelakang, Tidak Benar Seperti yang Dibayangkan Kyai Wapres


25 May 2020, 19:20
Dilihat   1.2K

Nusantarakini.com, Jakarta – 

Saya ditunjukkan tulisan seseorang yang merespon pernyataan Kyai Wapres yang menuding keterbelakangan umat Islam berasal dari umat Islam sendiri. Tulisan orang tersebut sepenuhnya seirama dengan esensi asumsi Kyai Wapres itu. Dia malah membawa-bawa nama Rasyid Ridha dan Sakib Arselan.

Tulisan dia sama sekali belum mengurai apa ukuran kemajuan itu? Sebab bagaimana kita mencap yang satu pihak mundur dan terbelakang sementara paramaternya tidak jelas dan hanya asumsi.

Pertanyaannya, apakah Barat cerminan suatu kemajuan? Apakah yg disebut under development dan development seperti yang disinggung oleh Kyai Wapres itu?

Kalau bicara development, Indonesia telah malaluinya selama 30 tahun lebih di masa Orde Baru, lalu apakah kita sudah maju? Padahal asumsi yang diterapkan dalam pola pembangunan bertahap sudah sepenuhnya mengimani ajaran Barat, secara khusus sesuai bimbingan dan arahan Rostow dan mafia Barkley. Tapi sudah maju belum Indonesia? Bikin hape sama motor saja sekarang ngimpornya ke China.

Kalau belum maju, apakah itu salah umat Islam? Apakah itu salah cara berpikir umat Islam? Lalu apakah yg dimaksud dg cara pikir maju sprti yg dibayangkan Kyai Wapres?

Sebenarnya ini tema lama.Diskusi kuno. Sudah lama diskusi seperti ini dan sudah lama selesai sebagai sebuah diskusi. Masalahnya, untuk kasus Indonesia, masalah maju tidak mau, tidak seperti pada kasus Malaysia, Iran, Turki, Mesir dan Arab Saudi.

Di Indonesia, kasusnya, Islam tidak bisa secara leluasa mewujudkan misi politiknya, karena oligarki anti Islam yang sangat kuat.

Dan masih banyak lagi. Adapun supremasi Barat dalam politik, ekonomi dan teknologi secara internasional, diraih melalui serangkaian imperialisme dan kolonialisme.

Jadi jika ada pertanyaan “Mengapa kaum Muslimin terbelakang?” karena para penjajah eksternal mereka seperti Barat dan penjajah politik internal mereka yang menjadi kolaborator penjajah, menghendaki mereka tersekat dan terbelenggu dalam penindasan, kekalahan dan kejumudan (stagnasi).

Jadi begitu, Kyai Wapres. Kalau mau membuat maju umat Islam, bukan mencari kesalahan pada pemahaman umat Islam atas agamanya. Itu hanya faktor kecil sekali. Faktor utamanya, jaringan imperialisme ekonomi dan politik yang masih kukuh membelenggu mereka hingga mempengaruhi mental, struktur dan budaya mereka yang stagnan dan beku.

Nah, mumpung Kyai Wapres memiliki porsi kekuasaan, saya bisa sarankan jangan mendekati penyelesaian stagnasi dengan asumsi, tapi harus empiris. Jangan seperti asumsi kuno Salib Arselan yang tdk memberi penyelesaian konkret. Tapi hanya menyalahkan umat Islam saja.

Jika ingin menyelesaikan pertanyaan kuno ini, bukan sekedar mendirikan Bank Syariah. Bukan sekedar mendirikan pesantren. Bukan sekedar mengalokasi APBN untuk pendidikan Islam. Apalagi menyalahkan praktik umat Islam yang belum sesuai ukuran Barat dan asing tentang pluralisme. Pluralisme tidak ada hubungan dengan kemunduran.

Daan….kita umat Islam dapat membuat ukuran kemajuan kita yang objektif dan bukan bias Barat.

Salah satu ukuran kemajuan umat Islam apabila:

1. Umat Islam merdeka 💯% secara mental dan budaya.
2. Kemandirian politik, ekonomi dan budayanya harus tanpa syarat.
3. Maju secara ekonomi dan teknologi sehingga umat Islam tidak tergantung secara ekonomi dan teknologi yang imbasnya secara politik terintervensi.
4. Umat Islam tidak diatur oleh pihak asing dalam otonomi praktik agama dan budayanya.
5. Umat Islam secara internasional harus mandiri, solider, kerjasama erat dalam berbagai bidang sehingga kemakmuran dan kemajuan mereka nikmati

~ SED

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!