Opini

Kolonialiame, Imperialisme dan Candu


12 April 2020, 12:58
Dilihat   1.8K

Nusantarakini.com, Jakarta –

Perang candu di Tiongkok pertama kali terjadi pada tahun 1840 sampai 1842. Perang candu ini dilatarbelakangi oleh penyelundupan candu ke Tiongkok oleh Inggris.

Sebelumnya, Bangsa-bangsa Barat membeli porselin, sutra, teh, rempah-rempah dari Tiongkok yang berakibat terkurasnya cadangan devisa negara Barat.

Perdagangan candu dipelopori oleh Inggris. Karena perdagangan illegal melalui Selatan Timur ini mendatangkan keuntungan yang luar biasa besarnya, maka peluang emas ini dimanfaatkan oleh Inggris/Barat untuk memperbesar cadangan devisa mereka.

Candu-candu diselundupkan melalui jalur laut, dan ribuan peti setiap tahunnya. Mengalirnya ribuan peti candu itu sangat melemahkan bangsa Tiongkok waktu itu dan kemudian dengan sangat mudah untuk dikuasai dan dijajah.

Saat itu Tiongkok adalah negara monarki absolut, Dinasti Qing. Banyak pejabat bahkan pangeran pun menjadi pengisap candu.

Mengetahui bahaya dan tujuan bangsa Barat, maka Raja Dao Guang mengeluarkan titah raja yang isinya antara lain larangan menghisap candu dan larangan import candu.

Namun saat itu letak antara pemerintah pusat terlalu jauh dari pelabuhan selatan timur, yaitu Guang Dong dan Hongkong. Serta juga karena pejabat yang korup, maka penyelundupan tetap tidak terkendalikan.

Karena itu, akhirnya pemerintahan Dinasti Qing menerapkan hukuman mati bagi warga lokal yang masih bekerja sama dengan pihak asing untuk penyelundupan candu.

Dengan diangkatnya seorang Gubernur Guang Dong Lin Ze Su oleh kaisar, dan secara khusus diberikan kekuasaan penuh untuk mengatasi penyelundupan candu, khususnya propinsi Guang Dong dan termasuk kota pelabuhan Hongkong.

Karena kewenangannya, maka Gubernur Lin melakukan penangkapan besar-besaran termasuk di pelabuhan. Dan candu-candu hasil tangkapannya lalu ditenggelamkan. Hal ini membuat marah pemerintahan Inggris dan sekutunya Perancis dan Amerika.

Sehingga pada November 1839, Inggris dan sekutunya menyerang kapal perang Tiongkok tanpa adanya pernyataan perang, dan membombardir pantai selatan timur Tiongkok.

Karena keunggulan dalam bidang persenjataan dan juga Tiongkok utara sedang terjadi pemberotakan Taiping, maka dengan mudah sekali Inggris dan sekutunya menguasai kota-kota pelabuhan seperti Hongkong, Guang Dong, Xia Men, Ningbo dan Shanghai.

Akibat dari kekalahan tersebut, pemerintah Tiongkok dipaksa menandatangani Perjanjian Nan Jing yang isinya jelas merugikan dan menguasai Tiongkok.

Pada Agustus tahun 1842 perjanjian tersebut ditandatangani :

1. Kota pelabuhan Hongkong harus diserahkan ke Iinggris.
2. Membayar pampasan perang.
3. Dibuka seluruh kota pelabuhan Tiongkok tenggara untuk Inggris dan sekutunya.
4. Hubungan pejabat pemerintah Tiongkok harus sama dan satu derajat dengan pejabat Inggris dan sekutunya.
5. Inggris dan sekutunya berhak membuka konsul di tiap-tiap kota pelabuhan dan harus dibuka aktifitas perdagangan itu.
6. Memberikan hak istimewa kepada warga Inggris dan sekutunya (daerah khusus ekstra teritorial) untuk tempat tinggal mereka.
7. Melegalkan perdagangan candu.

Dengan demikian maka bangsa-bangsa Barat mulai menancapkan kukunya ke daratan Tiongkok dan pemerintah Dinasti Qing tidak dapat berbuat apa-apa.

Ini adalah karakteristik bangsa Barat dengan ambisi imperialisme dan kolonialismenya untuk memperluas kekuasaannya. Sejarah mencatatnya, dan Hongkong baru dikembalikan ke Tiongkok tanggal 30 Juni 1997. Sedangkan Makao (Aumen) baru dikembalikan pada tanggal 20 Desember 1999. Dengan pengembalian ini menandai berakhirnya Imperialisme dan kolonialisme di Tiongkok.

Oleh Karena itu bangsa Tiongkok adalah negara jajahan bukan Penjajah. Kebangkitan Tiongkok adalah pemulihan keadilan atas status internationalnya yang pernah hilang, daripada meraih sesuatu yang baru.

Bangsa yang memiliki karakteristik sesuai dengan DNA-nya Kongfusianisme, sebuah kebudayaan yang tinggi dan tua, berorientasi pada keluarga dan berakar dalam keluarga, serta memiliki komponen etik yang kuat dan berakar, serta moralitas yang tinggi, bukan bangsa Penjajah. [mc]

*Chandra Suwono, Pengamat Sosial, Politik dan Budaya Tiongkok.

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!