Perjalanan

Dampak Ekonomi Wisata Religi Masjid Tiban untuk Masyarakat Sekitar


5 April 2020, 17:30
Dilihat   2.5K

Nusantarakini.com, Malang – 

Indonesia adalah Negara makmur nan subur gemah ripah loh jinawi. Masyarakat yang ramah, sangat mendukung kehidupan yang damai di sepanjang hunian yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Dan itulah fakta yang bisa ditunjukkan oleh Indonesia sebagai salah satu Negara berkembang di dunia yang berpaham demokratis.

Mempunyai beragam kebudayaan suku bangsa dan bahasa, menjadi modal utama bangsa Indonesia untuk dikenal dunia dengan keunikannya. Berbeda – beda tetapi tetap satu juga.

Jawa Timur adalah satu satu propinsi yang memiliki banyak keunikan untuk melengkapi ragam budaya Indonesia. Propinsi yang mempunyai obyek wisata religi terkenal di penjuru Nusantara, salah satu diantaranya adalah Masjid Tiban yang berlokasi di Kota Malang.

Masjid Tiban begitu masyarakat sekitar daerah menyebutnya. Masjid yang megah ini dibangun dengan nuansa keislaman dengan arsitektur yang menonjolkan ikon budaya islam sebagai agama rahmatal lil alamin. Masjid yang didominasi warna biru dan keemasan ini juga di kenal dengan Masjid Seribu Pintu.

Konon Masjid ini adalah sebuah Masjid kecil yang berada di dalam komplek Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadhaiiir Rahma. Nama panjang yang mempunyai makna ‘’Segarane , Segara, Madune, Fadhole Rahmad’’ atau lebih bermakna pada Laut Madu.

Seiring dengan perkembangan pembangunan Pondok yang pesat, kini masjid yang mulai dibangun pada tahun 1878 semakin tampak Megah tinggi menjulang ditengah – tengah perumahan warga yang berada di kota Turen. Dengan ciri-ciri khas yang berbeda, masjid ini menjadi salah satu pilihan masyarakat domestic dan mancanegara untuk menjadi tempat wisata religi.
Sedikit demi sedikit keberadaan Masjid ini membawa dampak terhadap masyarakat sekitar. Mulai dari perubahan pendidikan, ekonomi, wawasan dan pola pikir kehidupannya.

Masyarakat yang sebelumnya bermata pencaharian sebagai buruh tani dan lebih banyak pengangguran kini menjadi lebih produktif dengan berwiraswasta dan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Dengan demikian pendapatan masyarakat mengalami kenaikan yang signifikan. Tidak ada lagi perkampungan kumuh, kampung berubah menjadi tatanan rumah desa yang rapi dengan polesan cat warna cerah dan menyolok.

Halaman rumah warga yang luas kini berubah menjadi tempat usaha mikro yang menyajikan berbagai souvenir atau buah tangan bagi pengunjung. Pekarangan yang luas disulap menjadi rumah singgah dan tempat istirahat yang dapat disewa sewaktu-waktu bagi pengunjung yang ingin menikmati keindahan pada malam hari.

Masjid yang mempunyai ciri khas mengibarkan Bendera raksasa pada sore hari, mampu menarik perhatian wisatawan lokal maupun domestik. Suguhan nuansa temaram pada setiap ruang dan sedikit beraroma mistis semakin mengundang keingintahuan pengunjung untuk terus menjajakkan kaki sampai dengan lantai atas gedung.

Mata pengunjung akan banyak dimanjakan dengan pemandangan dan kreasi seni yang mengundang decak kagum dengan keunikannya. Aquarium raksasa berjejer disepanjang baris kiri dan kanan lorong pintu masuk berhiaskan lampu warna-warni. Ruang tengah yang berisikan kursi-kursi batu berukuran raksasa dan dicat dengan warna keemasan, tangga menuju lantai atas yang dibuat mirip tangga mimbar yang mewah, serta satu ruangan di tengah bangunan yang dibuat dengan nuansa alam yang dilengkapi pohon palm , anggrek , pancuran air di kolam , bongkahan batu hias besar yang bisa digunakan pijakan menyeberang ke ruang lain, spot yang bagus untuk berselfie.

Pengunjung juga dapat menikmati indahnya nuansa kekeluargaan yang kental dengan mengikuti sholat berjamaah yang bertempat di Masjid dalam ruang utama. Ruangan masjid yang menampilkan ornamen kuno jawa dengan dominasi warna kayu. Pilihan warna yang jauh menekankan kesederhaan dan wibawa. Coklat klasik.

Di lingkungan luar Masjid pengunjung disuguhkan ruang istirahat yang mirip taman sari lengkap dengan lesehan ataupun kursi batu dengan berbagai banyak bentuk nan unik. Pohon – pohon besar yang rindang menambah sejuk dan teduh semakin membuat pegunjung berlama-lama menikmati wisata religi di tempat ini.

Berani menjadi berbeda itu kesan yang bisa ditangkap dari pihak manajemen dalam pengelolaan Pondok ini, pada akhirnya mampu menarik dan mempengaruhi pola pikir warga sekitar untuk perubahan di kehidupan masyarakat. Dan hasilnya pun sudah bisa dinikmati secara langsung.

Dampak baik perubahan finansial yang dimulai dari masyarakat akan berkembangan menjadi perubahan finasial daerah, yang nota bene bisa terus dikembangkan sebagai virus positif yang bisa menarik maju pendapatan daerah di Indonesia. [mc/say]

*Ika Mardiana Maysaroh, Penulis Lepas Pecinta Wisata.

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!