Warkop-98

Covid-19: Aksi Pembungkaman Pejabat Indonesia


29 March 2020, 15:10
Dilihat   2.9K

Nusantarakini.com, Lamongan – 

Untuk yang mau berpikir agar tidak menjadi kaum dogmatis dan mati nalar, seyogyanya kritis pada presiden karena kecintaan pada negara. Jika tukang kritik mati, bisa dipastikan pejabat akan semakin tersesat dalam jurang kenistaan mengingkari sumpah di bawah Al Qur’an! Apakah jika kritis pada pejabat publik termasuk zalim? Apakah pemerintah menindas rakyat bukan perbuatan zalim?

Sejak mulai akhir Desember awal Januari tersiar kabar merebaknya virus Covid-19 di Wuhan kota yang ada sungai Yangtze, korban semakin hari semakin bertambah banyak. Virus menyebar dengan cepat menjadi predator mesin pembunuh, beberapa negara melakukan larangan kedatangan penerbangan baik datang atau dari China.

Travel Warning diberlakukan setiap negara untuk melindungi warganya terinfeksi virus Covid-19, nahas … Indonesia justru sebaliknya melakukan tindakan anti virus dengan pembiaran tourist China masuk dengan dalih mengangkat sektor pariwisata.

Hari ini Covid-19 bergerak liar unpredictable penyebarannya, siapa orang yang wajib disalahkan dengan kebodohan memberikan keleluasaan masuknya tourist China. Apakah presiden dan wakilnya atau menteri-menterinya?

Statemen bodoh dan absurd ditunjukkan pejabat negara terhadap rakyat, kebodohan yang hakiki dan konyol menjadi titik balik kepanikan.

Negara dan pemerintah tidak bisa melindungi rakyatnya dari malapetaka, banyak alasan untuk menutupi kebohongan dan kebijakan pemerintah yang sudah salah. Para pekerja mulai ketakutan, diam di rumah mati kelaparan dan bekerja resiko tertular Covid-19. Mati juga!

Rakyat Indonesia sekarang seperti memegang pisau dengan dua mata sisi, dilemma rakyat semakin mendekati kenyataan. Pemerintah bingung menentukan langkah untuk mencari solusi yang tepat. Di mana kampanye ketahanan pangan?

Negara-negara melakukan tindakan melindungi warganya, melihat kegagalan Italia, China dan USA memerangi Covid-19. Presiden semakin terdiam, banyak pejabat bungkam. Tidak ada lagi teriakan bising, “NKRI dan Pancasilais!”

Kembali rakyat dipaksa menelan pik pahit dari keputusan pemimpin negeri, seharusnya penyebaran Covid-19 bisa diminimalisir dengan tindakan Lockdown di beberapa wilayah. Tapi sayangnya pemerintah tidak berani melakukan penutupan akses daerah yang warganya terindikasi Covid-19.

Alasannya ekonomi bisa lumpuh, padahal pemerintah tidak siap karena tidak punya dana untuk memberikan insentif pada warga. Jauh-jauh hari WHO sudah peringatkan pemimpin Indonesia. Sayangnya pejabat yang membangun citra dirinya baik pembela rakyat adalah orang-orang yang punya mata tapi tak melihat, punya telinga tak bisa mendengar. Kepekaan mati!

Asumsikan jika obat yang dibeli pemerintah sebanyak 3 juta, sedangkan penduduk negeri sekitar 250 juta orang. Siapa yang akan diselamatkan terlebih dahulu, sampeyan, saya atau para pejabat?

Covid-19 adalah ancaman negara seharusnya badan keamanan negara dan intelijen sudah tau langkah apa yang harus diambil. Tidak perlu menunggu panglima tertinggi negara. Contoh yang wajib kita apresiasi adalah Tegal Jawa Tengah, Walikota berani ambil sikap ksatria untuk selamatkan warganya.

Pendekatan dan himbauan tidak berhenti disuarakan, pemerintah tidak berani menjamin keselamatan rakyatnya, malah diminta untuk menyumbangkan dana ke pemerintah. Seharusnya presiden dan wakilnya memberikan contoh untuk menyumbangkan gajinya demi negara melawan penyebaran Covid-19 dan mencukupi kebutuhan rakyat.

Apabila presiden melakukan itu, tidak lama terbitkan peraturan presiden kepada para menteri, pejabat tinggi negara lainnya serta anggota DPR/MPR memotong gajinya sekitar 70 persen demi selamatkan negara dan rakyatnya.

Covid-19 ini adalah senjata biologis pemusnah massal, ada virus ada vaksin dan semuanya kembali pada cuan. Di sini pentingnya seorang presiden mengerti tentang geopolitik, karena kebijakan dan paham geopolitik akan mempengaruhi kebijakan politik pada rakyat dalam negeri. Sayangnya presiden hanya tau game Mobile Legend, jangan tanyakan perkara geopolitik padanya. Wong obligasi saja tidak paham! Bagaimana mau berjuang untuk negara dan menyelamatkan rakyatnya!!!

Sepertinya saya harus minum jamu tiga kali sehari untuk memperkuat daya tahan tubuh, terimakasih anjuran bapak presiden!! Semoga saya jauh dari sakit, selalu sehat!! [mc]

*Sayuh, Supir Trailer, Penulis Lepas Berjiwa Bebas.

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!