Warkop-98

Tuntut Anies Saja, Jangan Jokowi!


18 January 2020, 23:52
Dilihat   3.6K

Nusantarakini.com, Jakarta – 

Purwanto, anggota DPRD DKI Jakarta ngajak masyarakat melakukan class action ke Jokowi terkait banjir. Kata dia, banjir tidak hanya di DKI. Tapi banjir ada di banyak wilayah provinsi. Surabaya malah baru kemarin kebanjiran. Mobil dan motor banyak kerendem.

Padahal, Anies diminta belajar ke Surabaya. Dan Megawati, saat rakernas PDIP beberapa hari lalu, minta Risma siap-siap ke Jakarta. Lah kok, malah Surabaya banjir. Mungkin Tuhan ingin berpesan: “seorang pemimpin itu mesti rendah hati, jangan jumawa”.

Kalau banjir ada dimana-mana, maka salah sasaran kalau nuntutnya ke gubernur DKI, Anies Baswedan. Yang dituntut mestinya Jokowi. Presiden berbagai provinsi yang kebanjiran, lanjut Purwanto.

Pendapat Purwanto ini didukung aktivis Perhimpunan Masyarakat Madani (Prima), Sa’roni. Memang, ke Jokowi lah yang paling tepat untuk melakukan ‘class action’ . ‘Class action’ itu artinya menuntut. Ngerti kagak?

Memang sih, Jokowi pernah janji: kalau jadi presiden akan lebih mudah atasi banjir dan macet DKI. Jokowi mesti tanggung jawab. Tapi, itu dulu. Sebelum jadi presiden. Sudah lama sekali. lupain ah… Jangan jadi gosip. Bosen!

Di luar wilayah DKI, korban banjir meninggal lebih banyak. Di Jawa Barat ada 25 orang. Padahal sang gubernur kabarnya sudah kerahkan pawang hujan. Gubernur DKI pun kirim pompa untuk ikut bantuin daerah Bekasi. Di Banten ada 20 korban meninggal. Jakarta lebih sedikit, yaitu 16 korban. Jumlah pengungsinya juga jauh lebih sedikit. Cuma 248 orang. Di Jawa Barat 21.109 dan Banten 5.106 pengungsi.

Karena banjir ada dimana-mana, cocok kalau class action itu dialamatkan ke Jokowi, kata Purwanto dan Sa’roni. Bukan ke Anies Baswedan. Sekilas, logika Purwanto dan Sa’roni ini masuk akal. Tapi ia gak sadar, Jokowi terlalu kuat untuk dilawan. Purwanto dan Sa’roni mungkin belum pernah ngerasain lawan Jokowi.

Class action? Tuntut Jokowi? Jangan cari masalah bro. Bosnya Purwanto yakni Prabowo Subianto yang gembar gembor “point of no return” dan “mau bikin surat wasiat” aja takluk. Itu bukan takluk, tapi rekonsiliasi. Oh iya ya. Bener, rekonsiliasi. Itu bahasa kaum elit. Bahasa orang awam, takluk. Berarti sama ya?

Inget orang-orang yang demo tanggal 21-22 Mei tahun lalu? Berapa jumlah anak-anak remaja yang mati dan ketangkep? Inget juga demo revisi UU KPK? Dua orang mahasiswa Kendari Sulawesi Tenggara mati. Oh, ngeri. Apalagi kalau denger cerita dari orang-orang yang baru keluar dari penjara, aduh… Jangan deh. Manusia setegar Eggy Sudjana aja tiarap.

Mending doain Pak Jokowi aja, semoga beliau bisa pimpin Indonesia keluar dari berbagai persoalan. Masalah Indonesia ini kompleks. Biarkan Pak Jokowi kerja untuk Indonesia. Loh aman, dan doa loh datangin pahala.

Kalau mau tuntut presiden, entar setelah tahun 2024. Nama presidennya Anies Baswedan. Insya Allah. Doain aja. Kalau mau class action, aman tuh…

Kalau sekarang mau nuntut, ke gubernur DKI aja. Dijamin aman. Malah, kalau loh pinter, bisa cari duit dari situ. Ada orang-orang yang lagi tebar sedekah kalau loh mau demo dan tuntut Anies. Loh cari aja. Lumayan. Yang demo kemarin aja katanya dapat 40 ribu. Taufik, ketua Fraksi Gerindra DPRD DKI bilang: aslinya 100 Ribu, tapi dipotong, Ya, mungkin untuk nasi bungkus dan aqua. Sisanya, ya untuk koordinator. Kalau mau dapat gedean dikit, ya harus jadi koordinator.

Cuma duduk dan yel-yel 3-4 jam dibayar 40 ribu, sedenglah. Apalagi kalau ikut class action. Dari istilahnya aja sudah layak dibayar mahal. Pakai bahasa Inggris bro. Nah, selain aman, class action ke Anies lebih banyak menguntungkan. Warga Bandung dan Bogor aja pada bersemangat ikut koordinir. [mc]

Jakarta, 17 Januari 2020.

*Mang Udin, Pengamat Politik, tinggal di Jakarta.

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!