Tausiah

Sepotong Kenangan dengan Ayah


28 November 2018, 6:59
Dilihat   9.6K

Nusantarakini.com,  Pekanbaru –

Tahun 1996, saat usiaku masih 17 tahun, aku pergi ke Jakarta untuk pertama kalinya. Aku naik bis tersohor seantero Sumatra Utara. Namanya Antar Lintas Sumatera. Disingkat dengan ALS.

Aku naik bersama Oppung Kasturi dari kawasan Bukit, di Kota Pinang. Tempat agen bis tersebut berada.

Sore itu. Naiklah aku menuju Jakarta. Memakan waktu perjalanan selama 3 hari 2 malam. Waktu itu, Ayahku belum meninggal. Masih kuat dan berdaging. Sekitar 5 tahun menjelang akhir hayatnya, seolah daging yang membungkus tulang-tulangnya menyusut. Dan terlihat sangat kurus sekali. Matanya cekung. Rambutnya menipis dan jarang. Ayah…anakmu sangat merindukanmu.

Kini, aku mulai kembali menapaktilasi perjalanan awalku yang 22 tahun yang lampau itu. Aku ingin merasakan kembali kenangan lama itu. Kenangan saat diriku masih remaja beranjak dewasa itu.

Kupikir-pikir, betapa nekadnya aku pergi ke Jakarta itu. Tak ada tempat tujuan yang pasti. Uang bekalpun hanya sekedarnya saja. Aku pergi lebih didorong untuk mengubah nasib. Syukur-syukur, ada tempat kuliah gratis yang dapat menampungku. Padahal aku sadar, aku hanyalah tamatan SLTA kampungan dari daerah kabupaten yang tidak maju: Labuhan Batu.

Nyatanya sekarang aku sudah punya anak dan istri di Jakarta. Nyatanya aku malah bisa menjadi Ketua Umum suatu organisasi mahasiswa terpandang di Indonesia: HMI. Aneh dan ajaib hidup ini.

Sekarang ayahku telah pergi selamanya. Aku masih ingat, ketika aku dan ayah menjual hasil karet yang kami kumpulkan hari itu ke seorang tauke dadakan, Atok Usnan. Uang hasil karet itu digunakan untuk ongkos dan bekalku selama nanti di Jakarta.

Baru sekarang aku menyadari betapa tabahnya ayahku, ibuku, melepasku begitu dengan polos menuju kehidupan baru, di Jakarta. Hanya doa yang senantiasa dikirimkan ibu dan ayah kepadaku selama tahun-tahun hidup di Jakarta. Bahkan ayah tak pernah menjejakkan kakinya di Jakarta. Padahal dia menginginkannya. Suatu hal yang paling kusesali.

Ibuku tidak seperti ayah. Ibuku sudah ke Jakarta. Ibuku mendampingiku ketika menikah di Sulawesi Tengah. Untuk hal itu, ibu transit di Jakarta. Ibu juga sudah melihat cucu pertamanya ketika saat masih bayi. Berarti dia sudah dua kali ke Jakarta.

Ayah….maafkan anakmu. Yang belum sempat membahagiakanmu hingga engkau pergi untuk selamanya.

 

 

~ Sungai Embun

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!
Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu