Sejarah

Fenomena Ustadz Abdul Somad


7 August 2018, 7:46
Dilihat   5.0K

Nusantarakini.com, New York – 

Ustadz Abdul Somad sedang mendapat giliran. Mungkin itu istilah yang saya ingin pakai. Bahwa di negara kita dari dulu silih berganti da’i dan ustadz yang populernya selangit. Tentu melalui wadah dan media yang berbeda.

Pernah ada Hamka dengan keahlian agama dan ketegasannya dalam menegakkan hukum Allah. Pernah ada KH Qosim Nurseha dengan kedekatannya dengan keluarga Soeharto dan ceramah-ceramah radio Kayu Manisnya yang terkenal.

Tapi yang popular dengan massa besarnya, tumbuhlah da’i-da’i dan ustadz di belakang hari. Ada KH Zainuddin MZ yang dikenal sebagai da’i sejuta umat. KH Abdullah Gymnastiar atau yang lebih popular dengan nama Aa Gym yang memiliki magnet karena bahasanya yang selalu Santun. Demikian juga dengan Arifin Ilham dengan senjata zikirnya yang digandrungi masyarakat.

Tiba-tiba sejak setahun lebih ini, bersamaan dengan “boomingnya” media sosial, muncullah seorang ustadz yang daya magnetnya “beyond rational judgement” (di luar batas pemikiran rasional). Artinya ketertarikan masyarakat kepada ceramah-ceramah beliau itu terkadang membuat sebagian ternganga. Di mana-mana, di kota maupun di kampung-kampung terpencil beliau ibarat gula bagi semut-semut yang kelaparan.

Ustadz Abdus Somad menjadi idola umat, hampir pada semua segmennya. Umat yang berafiliasi ke berbagai afiliasi, dengan sedikit pengecualian, menerima beliau dengan penuh antusias. Dari kalangan NU, Muhammadiyah, hingga ke mereka yang berafiliasi ke organisasi-organisasi non religi seperti Pemuda Pancasila, atau sebaliknya juga yang berhaluan khilafah seperti HTI menyenangi ceramah-ceramah beliau.

Dari rakyat kecil di kampung-kampung terpelosok, hingga professor-professor di perguruan tinggi, juga petinggi Polri dan TNI, bahkan Pejabat tinggi negara ingin mengundang beliau. Yang pasti Wakil Presiden secara khusus pernah memberikan penghormatan kepada beliau di saat memberikan ceramah di sebuah masjid di Jakarta. Bahkan konon kabarnya Presiden RI juga pernah mau mengundang beliau. Tapi jadwal beliau belum memungkinkan untuk beliau hadir saat itu.

Bukan hanya ceramah-ceramah beliau di darat. Ceramah-ceramah beliau di media sosial, khususnya YouTube menjadi salah satu ceramah yang paling digandrungi. Ceramah-ceramah beliau diupload, diedit dan dipotong lalu menjadi salah satu ceramah yang paling viral di kalangan masyarakat Indonesia.

Bahkan konon kabarnya ceramah-ceramah beliau juga secara diam-diam kerap kali didengarkan oleh teman-teman non Muslim. Mungkin karena memang menarik untuk mereka. Atau juga karena mencari-cari sesuatu, positif atau negati, Allahu a’lam.

Apapun itu saya tetap melihat bahwa itu adalah fenomena alam dalam sunnatullah. Setiap masa ada rijalnya. Dan dalam dunia dakwah masa kini Ustadz Abdul Somad menjadi “rajul min rijalih” (satu dari pelakunya).

Boleh jadi di esok hari akan terjadi pergeseran, dan akan muncul yang lain sebagai pelaku utamanya. Itulah dunia kita. Berputar tiada henti, dan pada akhirnya berakhir pula. “kullu man alaih faan” (semua yang ada dibatas bumi ini selesai). Demikian penegasan Al-Quran.

Dicawapreskan

Tapi barangkali yang paling fenomenal adalah munculnya nama Abdul Somad sebagai salah satu nama yang direkomendasikan oleh ijtima’ ulama dan tokoh Umat beberapa waktu lalu untuk maju menjadi cawapres di Pilpres tahun depan.

Beberapa waktu lalu saya pribadi pernah berniat mengundang beliau untuk datang ke Amerika dan memberikan tausiahnya kepada masyarakat Muslim Indonesia. Keinginan saya itu memang karena didorong oleh kapabilitas beliau dalam menyampaikan pesan-pesan Islam yang “menyatukan”.

Artinya ceramah-ceramah beliau masih steril dari keberpihakan, kecuali kepada kebenaran yang diyakininya. Dan karenanya saya menilai beliau bisa tampil sebagai sosok yang akan merekatkan kembali berbagai elemen dalam masyarakat Muslim Indonesia.

Intinya saya termasuk salah seorang yang senang dengan pendekatan keislaman beliau. Apalagi undangan ke Amerika ketika itu saya lakukan pasca beliau dicekal masuk Hongkong. Saya ingin menyampaikan bahwa Amerika is “better than Hongkong” dalam hal “freedom of speech”.

Sayang beliau menyampaikan permintaan maaf, karena menurut beliau saat itu tekanan-tekanan sangat berat. Karenanya beliau berjanji untuk memenuhi undangan saya tahun depan setelah pilpres 2019.

Terpilihnya beliau untuk direkomendasikan menjadi cawapres di pilpres tahun depan, apalagi oleh ijtima’ ulama dan tokoh Muslim nasional, tentu bukan sembarangan. Kita tidak tahu jangan-jangan di kalangan ulama itu memang ada yang telah mendapat “ilham” dari sholat-sholat istikharah yang mereka lakukan.

Terpilihnya beliau sebagai cawapres oleh ijtima’ ulama dan tokoh nasional menunjukkan bahwa beliau punya “maqoom” (posisi) khusus di mata mereka. Kehormatan dan kemuliaan beliau ada di mata massa dan ulama. Semoga ini adalah indikasi kemuliaan beliau di mata Penguasa langit dan bumi.

Maka rekomendasi itu bagi saya sangat mengagumkan. Bahwa beliau memang diterima di semua kalangan. Bukan hanya rakyat di kalangan masyarakat biasa. Tapi juga ulama, tokoh nasional, bahkan politisi.

Lebih kagum lagi

Walaupun rasa emosi saya mengatakan alangkah baiknya jika Ustadz Abdul Somad menerima tawaran menjadi cawapres, saya kemudian tersadarkan kembali oleh sikap beliau yang tegas dalam kesantunannya menolak tawaran itu. Saya menjadi lebih kagum dengan sikap itu.

Kenapa demikian? Bukankah negara dan bangsa saat ini dipersepsikan dalam keadaan darurat dan perlu seorang “guardian angel” untuk menyelamatkannya? Imej kepemimpinan nasional juga dibangun secara masif sebagai anti Islam dan kepentingan Islam. Benar atau tidak, imej ini sendiri bukannya memerlukan pemimpin Muslim yang sejati seperti Ustadz Abdul Somad?

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, perkenankan saya menyampaikan apresiasi besar kepada ijtima’ ulama dan rekomendasinya. Bahkan apresiasi besar kepada para ulama, di semua kubu, yang sekarang ini tidak lagi malu-malu dan menganggap politik praktis itu sesuatu yang tabu bahkan busuk.

Bangsa Indoensia, bahkan sebelum negara Indoensia resmi berdiri, tidak pernah melepaskan agama dari perjuangan publik, termasuk politik. Dari perjuangan kemerdekaan, hingga perumusan dasar-dasar negara, hingga di awal-awal bernegara, agama dan politik tidak pernah dipisahkan. Dari dulu tidak pernah ada yang mempermasalahkan Partai NU atau Masyumi misalnya.

Dan karenanya tahun-tahun terakhir ketika ada sebagian kalangan yang mempertanyakan “legitimasi” ulama dalam politik nasional, itu adalah kekeliruan bahkan pembodohan sejarah. Bahwa ulama dan perjuangan kebangsaan itu bagaikan darah dagingnya bangsa ini.

Oleh karenanya ijtima’ ulama itu adalah “afirmasi” dari tradisi bangsa yang mendarah daging. Mempertanyakannya adalah bentuk gagal paham atau pura-pura tidak paham. Atau boleh jadi bagian dari upaya pengkhianatan ideologi bangsa yang memang solid dalam “berketuhanan”.

Lalu apa yang menjadikan saya kagum atau tepatnya “lebih kagum” dengan sikap UAS menolak menerima rekomendasi itu?

Pertama, sudah pasti ketidak sediaan beliau menjadi cawapres di pilpres tahun depan itu akan menimbulkan kekecewaan kepada sebagian. Saya kira ini sangat wajar. Karena ketika sesuatu dilihat dengan pandangan emosional, akhirnya akan melahirkan reaksi emosional pula. Tapi beliau membuktikan bahwa dalam melakukan sesuatu itu bukan mencari “senangnya” orang, bahkan yang mayoritas sekalipun. Tapi mana yang lebih “ashlah” (lebih baik dan sesuai) bagi kepentingan umum.

Kedua, keputusan politik di Indoenesia secara konstitusi adalah wewenang partai politik. Karenanya ijtima’ ulama dan tokoh nasional bukan sebuah keputusan tapi rekomendasi. Hal ini dipahami betul oleh beliau bahwa rekomendasi itu tidak mengikat, baik secara syar’i maupun konstitusi.

Ketiga, beliau sadar bahwa ijtihad politik itu sifatnya manusiawi. Dan kerap kali ijtihad politik itu dipengaruhi oleh imej politik yang terbangun. Dan parahnya pula imej politik ini tidak jarang pula didominasi oleh kepentingan-kepentingan sempit. Karena bersifat manusiawi, maka jtihad itu bisa benar tapi juga bisa keliru.

Keempat, beliau menyadari realita dalam dunia perpolitikan di Indoensia saat ini. Bahwa pada semua kubu ada kelompok-kelompok Islam, bahkan ulama yang selama ini tidak diragukan kredibilitasnya. Bahkan disebutkan jika kubu-kubu yang bersebarangan masing-masing melirik ulama atau tokoh umat untuk digandeng menjadi cawapresnya. Jelas hal ini akan membingunkan umat, bahkan boleh jadi memecah umat ke depan. Dan karenanya sangat “bijak” ketika beliau tidak melibatkan diri dalam memperbesar kemungkinan kebungungan dan perpecahan umat itu.

Kelima, dan inilah poin yang paling saya kagumi. Beliau sadar betul bahwa pada masing-masing individu ada kelebihan-kelebihannya. Tapi bukan berarti dia lebih dalam segala hal. Seseorang yang ahli agama, hebat dalam orasi, bahkan mampu menjadi magnet massa yang besar, belum tentu hebat dalam kepemimpinan publik (politik). Sadar diri itu adalah modal keselamatan. Banyak orang yang terjatuh ke dalam jurangnya karena tidak sadar siapa dirinya yang sesungguhnya.

Tapi yang paling mengagumkan dari semua itu adalah kenyataan bahwa di tengah-tengah, dengan memakai kata positif “perlombaan” atau memakai kata negatif “ketamakan” untuk mendapatkan kartu pancalonan itu, beliau yang jelas didukung oleh ulama atau sebagian ulama dan tokoh umat, menolak.

Tentu bukan lari dari tanggung jawab, apalagi seperti yang mulai disebut oleh sebagian sebagai lari dari “kata-kata” beliau sendiri. Maklum selama ini beliau mengadvokasi urgensi kekuasaan dalam memperjuangkan kepentingan Islam dan umat.

Beliau menolak karena memang sadar bahwa beliau bukan di bidang itu. Beliau ahli ceramah, dalam ilmu agama, diterima luas dan memungkinkan untuk menang. Tapi beliau sadar terpilih bukan tujuan dalam berpolitik. Modal politik juga bukan hanya baik (kredibilitas). Tapi juga tak kalah pentingnya adalah kesesuaian dan kapabilitas.

Tidak kalah pentingnya politik harus tetap menjaga kepentingan bangsa dan umat yang besar. Dan sudah pasti kepentingan umat dan bangsa terbesar saat ini adalah tetap terjaganya kesatuan dan kebersamaan untuk membangun negara dan bangsa yang kuat dan menang.

Dan sebagaimana kata beliau, keikut sertaan semua elemen bangsa dalam membangun bangsa ini tidak harus lewat satu pintu. Bukan hanya pintu politik. Tapi melalui banyak pintu. Biarlah beliau tetap menjadi suluh (lentera) umat dalam dakwah dan pendidikan. Sementata yang lain ada ahlinya.

Kira-kira persis seperti pesan Nabi Ya’qub AS kepada putra-putranya: “masuklah dari pintu-pintu yang berbeda”.

Semoga Ustadz Abdus Somad selalu dijaga dalam keistoqamahannya. Semoga Indonesia menemukan pemimpin yang berkapasitas untuk mendayuhnya ke pulau idamannya. Negara yang berkarakter: “baldatun thoyyibatun wa Rabbun Ghafur.” [mc]

New York, 6 Agustus 2018

*Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation dan Imam di kota New York, AS.

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!
Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu