Nasional

Dawam Rahardjo: Warisan Ideologinya, Semangatnya dan Jejaknya Yang Takkan Pudar


31 May 2018, 9:10
Dilihat   559

Nusantarakini.com, Jakarta –

Kukira waktu itu aku masih semester empat. Aku terlecut sekali ingin mendapatkan sebuah buku. Buku itu katanya hanya ada di perpustakaan LP3ES, Slipi. Dia mengatakan kepada kami, saat mengisi ceramah Sosiologi, tentu sepanjang yang kuingat, “Kalau kalian telah membaca buku itu, kamu baru paham apa itu sosiologi,” ujarnya mensugesti kami yang lugu-lugu itu. Maklumlah kami hanya baca buku Ilmu Sosial Dasar (ISD).

Nama pemberi ceramah Sosiologi itu adalah Erlangga, M.Si. Seperti Dawam, dia juga HMI. Dan dia pun sudah berpulang ke Tuhan juga.

Esoknya, langsunglah aku berangkat naik bis Kopaja 86 dari Lebak Bulus ke LP3ES, di Slipi. Aku ke perpustakaannya. Padat dengan buku. Karena ruangannya tidak terlalu besar. Tapi dikelola dengan profesional. Kutahu itu, karena cara mereka mengatur koleksi buku sangat baik, rapi dan dijaga pula oleh staf yang standby melayani siapa saja yang berhasrat untuk membaca. Fasilitas fotocopy-nya juga tersedia.

Aku minta ke petugas perpustakaan itu untuk mendapatkan buku dengan judul Piramida Kurban Manusia, karangan Peter L Berger. Dia tidak butuh waktu lama untuk menyerahkannya padaku. Dengan polos aku meminta buku itu bisa kubawa pulang. Tetapi rupanya tidak boleh. Karena ada fasilitas fotocopy, aku pun diminta untuk membeli fotocopy-nya saja. Tentu aku tidak menolak usulannya.

Setelah dapat buku yang bikin penasaran itu, aku membaca sekilas. Tentu belum paham. Aku berjalan melihat-lihat kantor LP3ES yang sudah aku dengar kemasyhurannya. Sampai aku tiba di sebuah ruangan.

Ruangan itu seperti tempat untuk rapat besar. Kulayangkan pandangan ke seisi ruangan. Di dinding ke arah langit-langit, foto-foto ditempelkan dengan teratur. Pandanganku beredar satu per satu kepada setiap foto warna hitam putih itu. Kira-kira masing-masing ukurannya, 60 x 70 cm. Lagi-lagi seingatku. Karena waktu sudah lama berlalu. Kukira itu berlangsung di tahun 1999. Berarti sudah 19 tahun yang lampau.

Kulihat nama-nama di sana. Tawang Alun. Ismid Haddad. Sumitro Djojohadikusumo. Ah masih banyak. Dan…Dawam Rahardjo. Nama yang kini dikenang dalam tulisan ini.

Rupanya dia seorang mantan orang penting di Lembaga alternatif terhadap pandangan Orde Baru atas isu pembangunan tersebut.

Lembaga ini amat spesial kedudukannya dalam peta pengembangan ilmu-ilmu sosial di Indonesia, kala Orde Baru. Banyak terobosan yang dilakukan oleh LP3ES. Salah satunya mengangkat pesantren sebagai subjek sekaligus objek penelitian dan pembangunan. Di situ, jejak dan pengaruh Dawam Rahardjo tak tersangkal. Dialah yang membidani lahirnya P3M. Kukira konsepnya musti berasal dari dia. Sebab dia punya ikatan emosional dengan di dunia subkultur itu. Tentulah jagoannya ialah Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur.

Lepas dari kunjungan sekaligus ambil buku Peter L Berger di LP3ES itu, dengan susah payahnya aku membaca dan memahami bahasan buku itu. Tentu tidak mudah bagiku yang awam dengan disiplin sosiologi. Kurasa aku tidak menamatkan bacaan atas buku yang diendorse oleh almarhum Erlangga itu.

Tapi sejak itu, aku suka membaca tema yang terkait sosiologi, politik dan kebudayaan. Dan semenjak itu pula aku makin familiar dengan nama Dawam Rahardjo. Nama ini merupakan penulis yang brilian terkait isu-isu sosial. Tak ada yang membantahnya.

Ditambah lagi, di zaman itu, jurnal Ulumul Quran, yang dipimpinnya, masih berkibar hebat. Kurasa setiap kampus tidak melewatkan untuk mengoleksi jurnal populer terbaik itu. Isinya sangat kaya dan brilian. Banyak intelektual Muslim disosialisasikan dari jurnal itu. Dari sana muncul nama-nama yang lama dan yang baru. Nurcholish Madjid, Quraish Shihab, Abdurrahman Wahid, Djohan Efendi, Amien Rais, Syafi’i Ma’arif, Yusril Ihza Mahendra, Jalaluddin Rakhmat,  dan tentu saja Dawam Rahardjo. Yang muda, Saeful Muzani, Ihsan Ali Fauzi, Budi Munawar Rachman, dan Haidar Bagir. Tentu masih banyak lagi. Dan…jurnal Ulumul Qur’an itu sebenarnya karya Dawam. Dia menulis entri di sana yang kemudian dibukukan menjadi Ensiklopedi Al-Qur’an.

Jika ditanya, apa sebenarnya ideologi Dawam? Kenapa dia berkarya sebanyak itu? Mengapa dia memiliki minat sebanyak itu? Dari ekonomi, politik, budaya, sastra, hingga tafsir Al-Qur’an? Apa dia jenis ilmuwan ensiklopedis yang tak berideologi?

Agaknya tidak. Dia telah merumuskan pikiran ideologisnya, yaitu Islam dan Transformasi Sosial. Pada pokoknya, dia mendambakan perubahan sosial di Indonesia berlangsung transformatif, teratur kuat, menuju suatu masyarakat yang maju, demokratis, tapi oleh peranan Islam yang saling bekerjasama dengan unsur-unsur kekuatan demokratis lainnya di dalam masyarakat. Adapun negara tidak boleh lebih kuat dari pada masyarakat. Itulah sebabnya, dia memilih corak masyarakat madani atau civil society sebagai alternatif dari masyarakat Orde Baru yang bertitik berat ke negara (negara hegemonik). Bagaimanapun Dawam diliputi oleh lingkungan tantangan yaitu corak negara orde baru. Dari tantangan itulah ia merumuskan dan mendedahkan gagasan-gagasannya. Itu konteks sosial intelektualnya.

Sekarang dia telah berpulang. Teman-temannya juga sudah berpulang. Gus Dur, Cak Nur, Moeslim Abdurrahman, Djohan Efendi, Kuntowidjoyo, dan sederet angkatan mereka. Tapi masih tersisa, Syafi’i Ma’arif, Amien Rais, Yusril Ihza Mahendra, Gus Mus, Goenawan Mohamad, dan Cak Nun.

Satu per satu kusuma bangsa kembali ke asalnya. Semoga memasuki Jannah di sana Pak Dawam. Warisan gagasan-gagasanmu akan dikembangkan lagi.

 

Syahrul E Dasopang/Pemred EkonomiKa

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!
Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu