Satire

Pasca Jokowi: Orang-orang Cina Indonesia


24 April 2018, 14:36
Dilihat   2.4K

Nusantarakini.com, Jakarta – 

Dari sejak kecil kami sudah menyebutnya orang Cina. Orang-orang di Solo juga menyebutnya begitu. Teman-teman mahasiswaku di ITB yang kemudian menjadi sahabat-sahabat kami sampai sekarang. Termasuk mereka sendiri, Tiong Lee, Hok Jien, Kian On, Hian Hok, Kim Nyan, Kok Tju, Wei Jang, Liang Lee… dan masih banyak lagi, juga menyebut Cina.

Tentulah SBY salah mengeluarkan Perpres larangan menyebut Cina, harus Tionghoa. Kami juga menolak Perpresnya Habibie yang melarang sebutan Pribumi. Baru beberapa tahun terakhir inilah kami mengerti, bahwa larangan-larangan itu bersumber dari Cina-Cina Indonesia yang berhati jahat dan berjiwa penjajah!

Enam puluh tahunan yang lalu, aku, beberapa kakakku dan adikku, mulai senang membaca buku silat. Bukan bikinan Kho Ping Ho, melainkan terjemahan Chin Yung oleh Bu Beng Tju, SD Liong atau Gan KL. Cerita tentang Sia Tiauw Eng Hiong, Sin Tiauw Hiap Lu dan To Liong To, tanpa mengabaikan yang lain-lain. Kalau serial berikutnya sudah terbit, kami berebut… ingin mendengar kisah selanjutnya dari Yo Ko dan Siauw Liong Lie… serta Kwe Tjeng, Oey Yong, Kwe Hoe dan Kwe Siang, Lie Mo Tjiu… atau Lo Boan Tong Tjiu Pek Tong, Auwyang Hong, Oey Yok Soe dan Ang Tjit Kong… sampai Thio Sam Hong, Thio Boe Kie dan Thio Beng. Buku silat itu yang membuatku bisa dekat dengan orang-orang Cina.

Selain sahabat-sahabat priaku di atas, aku juga punya banyak teman dan kenalan wanita Cina, bahkan cukup akrab. Ada kakak beradik Tan, Lian Hoa dan Mei Hoa ketika masih kuliah di Bandung. Lalu ada mahasiswi baru waktu Mapram, Kho Pik Ay, anak Solo; dan Lie Tiong Bie, anak Surabaya. Lalu sempat dengan Souw Siok Nio, dan lain-lain. Sesudah lulus, ada pula Alexandra yang tidak mau menyebutkan nama Cinanya. Kami sempat bicara soal beda agama, bahkan dia mau masuk Islam. Tapi semuanya lalu berakhir sesudah aku berjumpa dengan si Dia yang sekarang menjadi isteriku; tampang Cina tapi Indonesia Asli!

Soal hubungan Pribumi dan Cina Indonesia ini memang menjadi persoalan besar. Bahkan persoalan yang sudah sangat lama tapi tak kunjung selesai sampai hari ini! Dari pengalamanku bergaul dengan para sahabat dan kenalanku perempuan-perempuan Cina itu, aku berkesimpulan bahwa hubungan perkawinan antara Pribumi dan Cina, khususnya lelaki Pribumi dengan Perempuan Cina, adalah solusi untuk Indonesia yang paling tepat! Once and for All! Siauw Tiong Djin menyebut dalam bukunya (1999), sebagai solusi adalah asimilasi. Beberapa hal yang dia tulis adalah pula pikiran-pikiran para tokoh Cina senior terdahulu, sesudah Kemerdekaan.

Memang maksud Tiong Djin dengan bukunya itu sebagai buku putih untuk menghapus tuduhan komunis terhadap bapaknya (Siauw Giok Tjhan). Tetapi, banyak pikiran-pikiran bagus ada dalam bukunya. Tiong Djin membedakan Asimilasi dari Integrasi dalam rangka Gerakan Nation Building. Berikut ini saya kutip beberapa paragraf.

“Di dalam sebuah artikel Star Weekly, Ong Hok Ham mengatakan bahwa kegagalan golongan minoritas dalam meleburkan diri ke dalam tubuh golongan mayoritas adalah kesalahan pihaknya sendiri, karena mereka mempertahankan identitas golongan Tionghoanya. Menurutnya, golongan minoritas seharusnya sadar, bahwa mereka tidak mungkin bisa menjadi WNI kalau berperilaku seperti orang asing. Meleburnya ke dalam golongan mayoritas adalah satu-satunya jalan keluar.”

“Pada Maret 1960, 10 orang dari kelompok Peranakan Tionghoa menyatakan dengan tegas, bahwa asimilasi adalah satu-satunya yang bisa ditempuh oleh golongan Peranakan Tionghoa. Di antara mereka adalah Auwyang Peng Koen (pendiri Harian Kompas, dikenal dengan PK Oyong. @SBP). Kelompok ini jelas menginginkan golongan Peranakan Tionghoa untuk memisahkan diri dari golongan Totok Tionghoa.”

“Kwee Hing Tjiat adalah yang pertama pada sekitar tahun 30-an menganjurkan asimilasi. Dia tidak menyebut ganti nama dan ganti agama, melainkan anjuran agar orang Tionghoa pada akhirnya harus terabsorbsi ke dalam tubuh masyarakat Indonesia. Antara lain, melalui asimilasi dalam bidang politik, sehingga memiliki rasa beridentitas Indonesia.”

“Sedang Yap Thiam Hien menolak Teori Asimilasi, dengan mengatakan bahwa Nation Building bisa dicapai dengan kerjasama antara semua golongan etnis. Yap mendukung konsep Integrasi dengan penekanan pelaksanaan hukum yang melarang diskriminasi rasial. Sedang konsep Integrasi menurut Siauw Giok Tjahn adalah perwujudan masyarajat adil dan makmur sesuai dengan formula Soekarno.”

Kelompok Asimilasi menolak Paham Integrasi yang dikatakannya sebagai mau mempertahankan struktur masyarakat seperti yang diciptakan Pihak Penjajah, yaitu cara hidup yang eksklusif dengan tetap mempertahankan adat-istiadat sebagai golongan Tionghoa. Akibatnya, golongan Peranakan akan menghadapi bahaya diserang oleh kaum Pribumi.”

“Akhirnya, pada Januari 1961, Kelompok Asimilasi mengeluarkan Piagam Asimilasi yang terdiri dari 7 (tujuh) butir, yang pada pokoknya adalah sebagai berikut:

“Aliran Asimilasi menolak upaya mempertahankan golongan Peranakan sebagai Ras Keturunan Tionghoa. Pemberian Kewarganegaraan RI semata-mata adalah untuk menjamin realisasi asimilasi Peranakan dengan Rakyat Indonesia keseluruhannya, sehingga hilang pula golongan-golongan seperti di zaman Kolonial. Program asimilasi meliputi kehidupan politik, kultural, ekonomi, sosial dan berkeluarga. Yang pokok adalah mengakhiri eksklusivisme dalam bentuk apa pun dalam lima bidang kehidupan tersebut.”

Itu dari buku Tiong Djin, yang bukan satu-satunya buku tentang hubungan Pribumi dan Etnis Cina. Sekarang kita lihat, bagaimana realisasi dari Piagam Asimilasi tersebut sesudah 60 tahun?! Ternyata jauh panggang dari api, karena segera terhenti dan tidak berproses. Yang muncul kemudian adalah justru eksklusivisme para keturunan Cina dan dominasinya di hampir semua bidang kehidupan. Sebagian dari mereka adalah keturunan Tar-tar, kepada siapa Kwe Tjeng belajar “Memanah Burung Rajawali” di Daratan Cina-Mongol. Apabila konsisten dengan Piagam Asimilasi tersebut, maka kewarganegaraan seseorang Etnis Cina Indonesia yang berniat jahat dan berjiwa penjajah itu seharusnya bisa dicabut setiap saat.

Kebijakan Jokowi dengan Rezimnya sekarang ini telah menghancurkan samasekali pikiran-pikiran National Building yang pada masa lalu sudah dirintis pasca Kemerdekaan. Dengan adanya Kerjasama Rahasia antara Jokowi dengan Xi Jinping, maka semakin bermunculanlah Cina-cina WNI yang mempunyai niat jahat dan berjiwa penjajah, seperti si Tjung Gwan Sie “Ahok” yang terlahir WNA, dan bermaksud menciptakan suasana kolonialisme Etnis Cina terhadap Pribumi Indonesia. Bukan Asimilasi yang terjadi, melainkan Kolonisasi.

Sudah seharusnya Piagam Asimilasi itu dikaji kembali untuk dikemas ke dalam perundang-undangan. Kiranya hal itu hanya mungkin terwujud sesudah Jokowi digulingkan. [erche]

*Sri-Bintang Pamungkas, Dewan Penasehat Musyawarah Rakyat Indonesia (MRI).

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!
Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu