Budaya

Begini Muhammad Saw dalam Imaginasi Orang Nusantara

Nusantarakini.com, Jakarta –

Muhammad Saw sebagai pribadi yang hidup dalam sejarah umat manusia, memiliki kedekatan yang kuat dalam imajinasi orang Nusantara. Malahan dapat dikatakan, karakteristiknya lebih dekat dengan citra orang Nusantara ketimbang citra Arab. Inikah yang membuat Muhammad Saw diterima secara luas sebagai idola religius di negeri kepulauan ini?

Misalnya, dia digambarkan sebagai orang kuat, tapi tidak congkak. Dia populer di mata rakyatnya, tapi tetap rendah hati. Dia pemberani, tapi tidak kejam dan agresif. Dia lembut dan welas asih.

Dia bukan dewa, tapi sosok yang terjangkau. Dia ramah tapi tidak kelewatan. Dia dikagumi, bukan karena kedigdayaannya, tapi oleh keluhuran budi pekertinya. Dia patuh penuh tanpa syarat kepada Tuhannya.

Dia memimpin rakyatnya dengan lembut, dialogis, penuh pengayoman dan pendidikan, bagaikan hubungan seorang bapak dengan anak yang beranjak dewasa. Dia pribadi yang hati-hati bila hendak berkata dan bersikap, hawatir ada pihak yang bisa terluka. Dia amat sensitif akan implikasi sosial setiap perkataan dan perbuatan. Hal ini selalu dia ingatkan kepada para pengikutnya.

Dia pribadi yang tekun, total, tapi punya konteks sosial kemanusiaan yang kadang memerlukan kritik, koreksi dan nasehat–untuk tidak dikatakan kadang-kadang dia bisa keliru sebagai layaknya manusia biasa. Dan hal ini disadari dengan baik oleh pengikutnya yang terpercaya, Abu Bakar As Shiddiq saat Muhammad Saw wafat.

Setiap kali dia keliru, Tuhannya menegur dan meluruskannya. Sebenarnya boleh dikatakan karakternya bukan karakter Arab yang jamak dijumpai, kasar, keras dan spontan. Dia lebih mewakili suatu citra masyarakat religius yang beradab tinggi.

Setiap kali mengaitkannya dengan citra masyarakat nusantara, rasanya seperti pribadinya bukanlah suatu yang asing bagi saya yang berbudaya nusantara. Wajarlah kita bergumam, Muhammad Saw adalah bagian dari kita, yang ideal dan dekat.

Jadi bila kita hendak membangkitkan Nusantara, Muhammad Saw dan warisan agamanya, Islam, adalah modal yang besar tiada tara nilainya bagi usaha luhur semacam itu, karena memang Islam sudah bersenyawa dalam kesadaran budaya kita.

 

~ Syahrul Efendi Dasopang, Pengkaji Teks Al-Qur’an

Terpopuler

To Top