Sejarah

Ini Jawabannya! Kenapa Orang Zaman Now Ramai Menuju Islam

Nusantarakini.com, Kairo –

Coba perhatikan fenomena banyaknya orang yang tidak malu-malu menunjukkan ciri-ciri keislamannya. Mulai dari ramainya perempuan, tua muda yang mengenakan hijab, hingga pria, tua muda yang memakai janggut. Pertanda apakah ini menurut Anda?

Ini adalah fenomena arus balik. Ketika sekularisme modern tak sanggup lagi memenuhi dahaga manusia akan kepastian, kesejatian dan kehidupan yang stabil secara emosional dan moral, orang pada akhirnya menengok, berpaling dan lari ke Islam.

Pada Islam, hasrat akan hidup yang bermoral dan stabil secara emosional, terpenuhi dengan baik. Selain filsafat hidup Islam yang kukuh dan menghunjam kuat akarnya, Islam juga menyediakan cara hidup yang seimbang dan sesuai dengan qodrat manusia.

Tanpa ada keraguan padanya, Islam adalah agama kepatuhan. Dia anti tesa dari anarki dan pemberontakan. Selama ini, manusia modern sudah lama bosan dengan suasana hidup yang penuh ketidakpastian. Modernisme itu sendiri hakikinya adalah kehidupan pemberontakan dan nihilisme. Sementara manusia berabad-abad telah hidup dalam suasana pemberontakan yang dibawa oleh modernisme, namun tidak membawa kebahagian yang hakiki bagi manusia. Yang hadir ke dunia, malah hidup yang keras, kering, dan amburadul. Di sini, Islam menjawab masalah ini.

Sebagaimana diketahui, Islam artinya kepatuhan. Maka untuk memahami Islam, kata kuncinya adalah patuh. Patuh pada apa dan siapa? Tentu patuh pada aturan Allah dan pada Pencipta. Dengan kepatuhan itu, terciptalah ketertiban dan kedamaian. Sementara sudah lama manusia rindu dengan kedamaian dan ketertiban.

Di sinilah alasan mengapa manusia modern ramai-ramai masuk kepada Islam. Walhasil sudah takdir sejarah Islam akan populer lagi bagi manusia menjadi alasan dan gaya hidup mereka sekarang dan mendatang.

Mencegah kecenderungan ini hanya akan sia-sia dan tidak akan berhasil. Modernisme sendirilah yang melapangkan jalan bagi berseminya Islam bagi umat manusia.

Marhaban Islam, dinullah, dinul fitrah.

 

~ Kyai Embun

Terpopuler

To Top