Sejarah

Aib Sejarah Bangsa Indonesia


10 September 2017, 21:12
Dilihat   3.4K

Nusantarakini.com, Jakarta –

Bangsa Indonesia dijajah kolonial Hindia Belanda dari tahun 1600 sampai 1943. Selama 343 tahun (penjajahan) Hindia Belanda berusaha mengangkut semua kekayaan alam Nusantara untuk dibawa ke Hindia Belanda.

Guna untuk menjarah semua kekayaan Indonesia ke Hindia Belanda, maka pada tahun 1602 didirikan perusahaan dagang dengan nama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang merupakan gabungan perusahaan dagang terdiri dari 6 kamar dagang di Negeri Belanda yakni Amsterdam, Rotterdam, Delft, Enkhuysen, Zeeland dan Hoorm.

VOC adalah merupakan perusahaan dagang yang melakukan kegiatan monopoli perdagangan di wilayah OoST Indies dan bertindak sebagai suatu kekuasaan yang berdaulat untuk menjamin praktek monopoli serta mendapatkan rempah-rempah sebanyak-banyaknya dan semurah murahnya, sehingga memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.

Pada zaman VOC antara 1602 sampai 1800, sebenarnya hanya mampu menduduki, menguasai serta berdaulat di beberapa kota penting di pesisir pantai nusantara termasuk Batavia.

Di Jawa masih ada Kerajaan Mataram dan Kesultanan Banten. Di Sumatera masih ada Kerajaan Aceh, Minangkabau, danDeli. Sedangkan di Sulawesi ada Kerajaan Goa, Makasar, Bugis, Buton dan lain-lainj. Sedangkan di Bali masih banyak Raja-Raja kecil.

Namun kerajaan-kerajaan tersebut tidak pernah mampu mengusir VOC, karena strategi propaganda, provokasi dan adu dombanya yang kerap kali digunakan dalam rangka memperluas kedaulatannya di bumi Nusantara dan mempertahankan eksistensi kedaulatannya. Ini adalah penjajahan dengan karakteristik dari imperialisme dan kolonialisme Belanda; seperti halnya negara-negara Eropa lainnya.

VOC dibubarkan tahun 1800 karena korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh pejabatnya yang kemudian dipecat dan dikembalikan ke Belanda dengan membawa harta yang luar biasa banyaknya. Kemudian kekuasaan diambil alih oleh Kerajaan Hindia Belanda hingga tahun 1942.

Sejak tahun 1942 sampai 16 Agustus 1945, Indonesia jatuh ke tangan penjajah imperial Jepang yang saat itu merupakan kekuatan global. Yaitu negara yang memiliki kekuatan militernya mampu menjajah separuh Benua Asia. Di samping Indonesia, Negara Korea. Taiwan dan sebagian utara Tiongkok adalah jajahan imperial Jepang.

Revolusi di Jepang seiring dengan jatuhnya Rezim Tokugawa yang dikenal dengan Restorasi Meiji-nya, merupakan satu-satunya negara di Asia yang mampu menerobos eksklusif Barat pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Dan juga merupakan satu-satunya negara Asia yang mengikuti revolusi industrinya negara-negara Eropa.

Jepang meniru dan belajar dari negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat (AS) dengan mengirim utusan untuk mengkaji apa yang bisa dipelajari, dipinjam lalu disesuaikan dengan budaya dan karekteristik bangsanya. Sistemm pendidikan meniru sistim distrik Perancis, angkatan lautnya meniru Inggris, angkatan darat meniru dari Jerman, dan universitas meniru AS.

Dan hasilnya sangat menakjubkan, seketika Jepang muncul menjadi kekuatan baru dunia global yang memiliki karakteristik yang relatif sama dengan kebanyakan negara-negara di Eropa; yakni penjajahan dengan karakteristik imperialisme dan kolonialisme. Meskipun hanya menjajah Indonesia selama 3,5 tahun, namun daya hancurnya luar biasa besarnya. Dan kehancurannya juga terjadi di negara-negara jajahan lainnya.

Pada tanggal 14 dan 15 Agustus tahun 1945, AS meluluhlantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki dengan menjatuhkan bom atom. Hal ini membuat Jepang menyerah kepada sekutu; dan berakhirlah kekuasaan imperial Jepang di negara-negara Asia. Namun di awal tahun 70-an sampai 80-an, Jepang muncul kembali sebagai kekuatan ekonomi dunia global; dan khususnya di Indonesia dibanjiri produk-produk Jepang. Dimulai dari peralatan rumah tangga, alat transportasi, alat-alat industri, dan lain-lainnya; yang juga disebut sebagai penjajahan tanpa kekuatan militer.

Bagaimana aib bangsa ini (Indonesia) supaya tidak terulang lagi dan hanya dijadikan sebagai sejarah masa lalu dan memberi pelajaran untuk bangsa kita? Serta bagaimana cara berbangsa dan bernegara untuk menjadi negara maju dan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan?

Namun sayangnya, bangsa kita saat ini terjebak oleh dunia yang diciptakan oleh AS dengan ideologi mereka; yakni demokrasi, liberalisasi, privatisasi dan kapitalisasi sedemikian dalamnya . Sehingga kita anggap suatu kewajaran yang patut kita anut untuk menbawa kemajuan bangsa. Inilah cikal bakal hiruk-pikuknya politik adu domba SARA dan dimanfaatkan oleh negara lain untuk mengambil keuntungan dari kondisi tersebut; serta menghabiskan energi bangsa untuk masalah pilkada, pilleg maupun pilpres; sangat tidak efektif dan efisien.

Bangsa Indonesia memiliki Candi Borobudur yang merupakan satu dari tujuh Keajaiban Dunia. Selain Indonesia, hanya ada 6 negara di dunia ini yang memilikinya dan dibangun dalam semangat gotong royong dan toleransi. Fakta bahwa karakteristik dan kebudayaan bangsa kita juga mampu disejajarkan dengan bangsa lain; bahkan melebihinya.

Seharusnya bangsa kita menggali karakteristik sejarah dan budaya bangsa sendiri untuk membawanya pada kemajuan bangsa dengan kembali menerapakan Demokrasi Pancasila dengan gotong royong; tanpa harus belajar ideologi demokrasi bangsa lain. Sehingga akan terhindar dari aib bangsa dan mampu menjadi negara maju dan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan, seperti pada zaman Kerajaan Mataram, Sriwijaya, maupun Kerajaan Majapahit. [mc]

*Chandra Suwono, Pemerhati Ekonomi, Politik dan Budaya.

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!