Analisa

Mr. Kan: Segala Kerusakan Negara Karena Korupsi Sudah Merajalela, Bukan Karena FPI


27 June 2017, 10:33
Dilihat   4.3K

Nusantarakini.com, Jakarta – 

Sekitar akhir tahun 2016 dan awal 2017 beberapa kali saya membaca dan menonton berita di televisi adanya beberapa kelompok masyarakat yang menyerukan, “Bubarkan Ormas FPI.” Dengan beberapa alasan antara lain, Ormas FPI berpotensi mengancam empat pilar kehidupan bangsa dan negara yakni: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Beserta terdahulu ormas yang kental akan aksi-aksi anarkis, juga dianggap ormas yang kurang bisa menjalankan fungsi ormas.

Saya mengamati atas kejadian itu cukup banyak pro dan kontra yang bermunculan, terutama di jaringan sosial media. Untuk sebagian besar pihak yang pro FPI menyampaikan, “saya bukan FPI tapi saya dukung FPI,” atau, “FPI lebih jelas NKRI,” dan masih banyak ucapan kata-kata yang memberikan dukungan kepada FPI.

Sebelum saya sampaikan komentar yang lebih lengkap, saya ingin tegaskan bahwa saya bukan FPI dan juga bukan pembela FPI.

Terdahulu jujur saya juga pernah turut serukan suara, “Bubarkan FPI” melalui broadcast BBM. karena menurut saya wajar, terdahulu itu memang kita sering menonton berita di televisi adanya oknum-oknum anggota FPI yang sedang melakukan hal-hal yang kental akan aksi anarkis dan kekerasan.

Nah pada saat itu saya merasa aneh, mengapa aparatur penegak hukum tidak ada upaya melakukan pembubaran FPI? Jika dahulu sampai terjadi pembubaran FPI, menurut saya itu cukup wajar dan bijaksana.

Malah belakangan saya pernah menonton sebuah rekaman video yang berbunyi banyak kalimat pujian terhadap FPI oleh Bapak Tito Karnavian yang pada saat itu sedang menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya.

Dalam video itu Pak Tito menyampaikan FPI adalah ormas Islam yang sangat toleransi serta banyak kata pujian kepada Habib Rizieq selaku mantan ketua FPI.

Secara pengamatan saya beberapa tahun terakhir ini, terutama di tahun 2016 dan 2017, Ormas FPI sudah banyak sekali melakukan hal-hal yang mencerminkan pembelaan kebenaran dan keadilan terhadap bangsa dan negara.

Belakangan ini apa saja yang di lakukan oleh Ormas FPI, turut partisipasi menolong korban bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor dan sebagainya.

Yang paling membuat saya sangat terharu terhadap Ormas FPI adalah FPI telah turut melakukan aksi demonstrasi menuntut aparatur penegak hukum seperti KPK untuk membongkar sejumlah besar kasus dugaan korupsi.

Serta FPI selalu turut melakukan aksi demonstrasi di barisan paling depan dari jutaan massa Aksi Bela Islam yang ingin menutut hukum yang berkeadilan untuk ditegakkan, terutama pada kasus penodaan agama yang di lakukan oleh terpidana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Dimana kita ketahui jelas sekali atas kasus Ahok itu, selama proses hukum berjalan dari awal sampai akhir, terpidana Ahok jelas sekali sudah mendapatkan keistimewaan, yang mana menurut saya seharusnya bertentangan dengan pasal 27 ayat 1 UUD 1945.

Dalam hati kecil saya berkata, “beruntung masih ada Ormas FPI “. Kasus Ahok ini bisa menjadi sebuah contoh dan awal dari sebuah harapan baru untuk membuka jalannya hukum yang lebih berkeadilan, agar ke depannya setiap proses hukum bisa ditegakkan seadil-adilnya.

Dimana selama ini tidak jarang kita dengar kalimat, “hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas,” oknum-oknum yang berusaha akal-akalan sehingga ada kejadian hukum yang pilih kasih.

Banyak kasus yang jelas-jelas terjadi pelanggaran, terutama kasus korupsi,tetapi tampaknya tidak ada proses hukum yang serius. Adapun jalannya seperti tunda menunda, bergulir bertahun-tahun tetapi belum tuntas-tuntas!!

Kadang ada yang bin ajaib seakan berhenti tiba-tiba. Kasus yang muncul dan hilang seperti tidak ada jejaknya, tampak seperti bertele-tele, seringkali saya melihat tampaknya tidak ada kepastian hukum.

Terkadang saya merasa hukum itu sering mati, sangat lemah dan ada banyak permasalahan serius. Saya melihat seakan para oknum di pemerintahan tidak hadir di pihak warga dalam kehidupan bermasyarakat.

Sehingga saya pun yang dulunya turut serukan bubarkan FPI kini berubah menjadi turut serukan, “Saya turut dukung dan doa untuk FPI maju terus.”

Terutama saya sangat mendukung FPI untuk mendorong agar aparatur penegak hukum segera membongkar sejumlah kasus korupsi dan dugaan korupsi sampai tuntas.

Saya memperkirakan belakangan ini yang turut mendukung Ormas FPI kemungkinan besar bisa mencapai puluhan juta orang. Dulu sepengetahuan saya pendukung FPI itu mungkin tidak sampai 10.000 orang.

Tetapi sekarang sangat berbeda, FPI sudah bukan yang dulu lagi. FPI sekarang jelas di barisan terdepan dalam membela kebenaran dan keadilan di dalam kehidupan berbangsa dan negara. Terbukti Aksi bela Islam “212” itu massanya berkumpul dan yang turun ke jalan berjumlah sekitar lima sampai enam juta orang.

Sepanjang sejarah di Indonesia massa yang terbanyak turun ke jalan adalah Aksi 212. Saya yakin tidak ada orang atau pihak ormas manapun yang mampu mengumpulkan massa begitu banyak selain FPI.

Kita coba membedah soal seruan bubarkan FPI yang baru-baru ini. Jika kita perhatikan sejarah perjalanan organisasi masyarakat atau ormas, juga ada beberapa ormas lain selain FPI yang tidak saya sebutkan namanya yang terdahulu cukup kental akan aksi anarkis dan kekerasan.

Terbukti dahulu cukup banyak sekali kita ketahui terjadi bentrokan antar ormas sampai jatuhnya korban luka-luka parah hingga ada yang meninggal dunia.

Nah, mengapa akhir-akhir ini tiba-tiba di masyarakat muncul sebagian opini seakan tergiring fokus meneriakkan “Bubarkan FPI.” Sekarang ormas FPI kan sudah lakukan yang benar dan cukup baik?

Kenapa tidak terlihat adanya opini yang meneriakkan bubarkan ormas lainnya, yang terdahulu juga sempat melakukan anarkis? Kok hanya FPI? Baru-baru ini apa salah FPI ?

Menurut saya kejadian seruan bubarkan FPI itu sangat aneh, dan penggiringan opini pun arahannya tidak jelas, seakan terbawa arus kotor!!!

Dalam hal ini saya menduga apa yang dilakukan FPI akhir-akhir ini kemungkinan besar sudah terusik aktivitas para aktor politik busuk dan para koruptor busuk.

Sehingga kemungkinan ada pihak-pihak aktor busuk melalui bawah tanah atau bekang layar berusaha menggiring opini untuk masuk ke dalam arus kotor itu.

Untuk itu sebagai bentuk opini, saya sangat menyarankan kita semuanya yang sebangsa dan setanah air, lebih baik kita terus menerus fokus serukan “Bubarkan para koruptor dan aktor politik busuk.”

Daripada kita ikut menyerukan membubarkan FPI, itu salah menurut saya. Karena kita harus ingat dan menyadarinya, sumber dari segala kerusakan negara seperti kemiskinan makin ekstrim, hutang negara semakin meningkat atau menumpuk, dan mata uang internasional kurs dollar AS semakin tinggi.

Ditambah lagi kegala kebutuhan pokok semakin mahal, pembangunan infrastruktur yang masih amburadul, banyak ketinggalan teknologi canggih yang berkembang di dunia, kualitas pendidikan yang tidak merata serta ketinggalan. Serta isi bumi sumber kekayaan alam yang masih terus dikeruk oleh pihak asing dan lain sebagainya.

Semuanya itu dikarenakan korupsi yang semakin merajarela dan para aktor politik busuk yang semakin tidak waras. Tentunya sangat jelas, semua itu bukan karena Ormas FPI atau pun ormas lainnya.

Khusus saran dari saya untuk aparatur penegak hukum, ke depannya jika ada ormas apapun yang melakukan aksi anarkis dan kekerasan, maka secara tegas bubarkan saja, dan berikan hukuman yang setimpal untuk pelaku anarkis atau kekerasan serta ketua ormas yang bersangkutan.

Jangan sampai ada kesan atau anggapan dari masyarakat seakan-akan ada oknum aparatur penegak hukum melindungi ormas yang bersifat premanisme atau seakan adanya pilih kasih.

Terakhir, saya kira jika suatu hari negara dan bangsa sudah maju dan makmur, pastinya juga akan menjadi jarang ada lagi orang yang mau membentuk ormas dan ikut jadi anggota ormas seperti negara-negara maju. Mereka bisa bubar sendiri dengan otomatis. [mc]

*Kan Hiung alias Mr.Kan, Pengamat Politik dan Hukum.

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!
Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu