Tausiah

Kisah Seorang Mu’allaf Tionghoa (Bagian 4)


7 June 2017, 12:17
Dilihat   3.4K

Nusantarakini.com, Yogyakarta – 

MENGETUK PINTU HIDAYAH (4)

Kehamilan anggur (mola hidatosa) adalah penyakit yang masih asing dan langka pada waktu itu. Sekarang baru kita ketahui merupakan kanker jinak akibat gagalnya pembuahan di rahim. Biasanya pada usia di atas 45 tahun menjelang menopause. Adanya kista, sering dikuret, hipertensi, dll.

Walaupun digolongkan jinak, namun sewaktu-waktu bisa ganas menjadi kanker rahim yang tentunya sangat membahayakan nyawa.

Kami merahasikan keterangan dokter tersebut, karena kami tidak ingin hal itu menjadi beban pikiran ibuku. Kami semakin rajin berdoa menurut agama kami waktu itu Budha Khong Hu Chu.

Memang sejak keluar dari rumah sakit kondisi ibu semakin lemah. Tidak berani kerja yang berat, tidak berani kerja yang berlebihan dan bikin capek. Ini tentunya bagi ibu merupakan siksaan tersendiri, karena dari masih gadis beliau adalah wanita pekerja keras dan tekun. Hal itu terlihat dari wajahnya terpancar adanya batin yang tertekan.

Empat bulan kemudian terjadi kebakaran hebat di pabrik kayu (shawmill) di belakang rumah dinas kami pada malam sekitar pukul 21.00. Keadaan yang mendadak itu membuat kami menjadi panik. Dikhawatirkan api menjalar ke rumah, kami keluar rumah tanpa bisa membawa apa-apa. Yang kami khawatir adalah ibu menjadi shock dan penyakitnya kambuh. Syukurlah api bisa dipadamkan tiga jam kemudian, tapi shawmill sudah rata dengan tanah. Ketika situasi sudah kondusif, kami kembali ke rumah dengan rasa trauma atas kejadian yang mendadak itu.
Sejak kejadian itu, kami lihat kondisi ibu semakin membaik. Jalannya sudah normal. Mungkin juga yang menguatkan semangat beliau untuk cepat pulih karena adanya si Bungsu yang selalu manja, selalu memegang tangan ibu seakan takut kehilangan, yang selalu mencium perut ibu sambil rambutnya dibelai oleh ibu. Suasana keceriaan mulai menghiasi kembali keluarga kami.
Kami ingin suasana seperti itu untuk selamanya.

Namun keinginan kami ternyata belum dikabulkan oleh Allah. Lima bulan sejak kebakaran itu, mendadak ibu pendarahan hebat lagi pada malam hari sekitar pukul 11.00. Dan kali ini lebih parah dengan yang pertama, karena kondisi fisik yang melemah. Beliau hanya terbaring tidak sadarkan diri dari rumah sampai kerumah sakit yang dulu. Ibu langsung dimasukkan ke ruang IGD. Kami disuruh menunggu di luar. Sampai menjelang subuh belum ada berita sama sekali. Setiap perawat yang keluar dari ruangan IGD kami tanyakan tentang keadaan ibu, jawabannya selalu sama, “Kami sedang berusaha, tolong banyak berdoa yaa….” 

Semua yang ada di ruang tunggu terdiam. Berbagai perasaan berkecamuk di hati kami masing-masing. Kami berdoa, semoga ibu jangan dipanggil dulu oleh Yang Kuasa.

Kami semakin gelisah, cemas, was-was menanti berita tentag ibu. Sampai pukul 09.00 belum juga ada berita. Sekitar pukul 09.30 kami (bapak, kakak sulung dan saya ) dipanggil dokter yang menangani ibu. Kami melihat wajah dokter begitu kudu, mungkin kurang tidur juga. Dia menatap wajah kami satu persatu, sambil menghela nafas panjang, dokter berkata, “Kalian harus tabah ya menghadapi cobaan ini. Kami telah berusaha semaksimal mungkin, tapi……”

Dokter menghentikan perkataannya, ini yang membuat kami tegang sekali. Perasaan begitu mencekam. Kemudian beliau melanjutkan kalimat yang membuat kami shock dan kaget bagaikan mendengar petir di siang bolong. Ibu dalam keadaan yang mengkhawatirkan, kritis. Karena sudah menderita kanker rahim stadium awal, kanker ganas.

“Diperkirakan ibu kalian tidak akan bisa bertahan satu tahun lagi dengan mengacu kondisi fisiknya. Tapi ada cara untuk menghindar dari itu, yaitu operasi pengangkatan rahim. Dan ini pun kita mengambil resiko yang tinggi, kalau kalian setuju,” kata dokter.

Bapak memberanikan diri bertanya: “resiko apa yaa pak Dokter?”.
“Resiko nyawa kalau gagal, kalau berhasil maka ibu kalian bisa bertahan beberapa tahun,” dokter menjelaskan sambil menatap kami.

Kami bingung harus bagaimana. Kami takut kehilangan ibu kalau operasi pengangkatan rahim gagal dan ibu meninggal. Tapi dari sisi yang lain kami juga kasihan kalau ibu sering mengalami pendarahan yang tentunya juga akan menderita sakit yang hebat karena sudah menjelma menjadi kanker rahim yang ganas.

Akhirnya kami memutuskan ibu dioperasi saja. Kami siap menanggung segala resiko. Setelah tanda tangan persetujuan, Dokter meminta kami tetap berdoa dan tabah. Kami disuruh ke ruangan tunggu karena tindakan operasi akan dilakukan siang itu juga.

Kami menunggu dengan perasaan yang berkecamuk. Was-was, sedih, tegang, takut kehilangan, dan harapan. Detak jam di dinding seperti detak jantung kami yang berdebar kencang. Setip saat kami menoleh ke ruangan IGD. Waktu terasa lama.

Lima jam kemudian, Dokter keluar dari ruangan IGD dan bertemu dengan kami. Dia berkata, “Puji Tuhan, operasi berhasil, tapi masa kritis belum hilang. Hati-hati menjaga ibu kalian karena kondisinya masih lemah sekali.” 

Tak lama kemudian ibu dipindahkan ke ruangan pasien umum dalam keadaan masih belum sadar dari obat bius.
Satu jam kemudian dengan pelan ibu membuka mata. Nanar, pandangan masih belum jelas. Sambil berkata lirik, “Haus….”
Kami kasih minum sedikit sekali. “Adikmu mana..?” Kalimat lirih terucap dari mulut yang pucat.

Kami meminta adik bungsu mendekat memegang tangan ibu dan menciumnya sambil terisak. Dari mata ibu yang terpejam merembes tetesan air mata.
Selama sekian tahun baru saya menyaksikan ibu menangis lagi.
Semoga ini bukan tangis perpisahan.

Suasana sedih, tegang, cemas ,was-was secara pelan terkikis seiring dengan perkembangan penyakit kanker rahim ibu yang semakin membaik pasca operasi pengangkatan rahim (sayangnya obat kanker rahim/ pendarahan saya temukan setelah ibu sudah meninggal).

Setelah masa kritis dan kondisi ibu sudah hampir pulih, maka diperbolehkan pulang ke rumah sambil rawat jalan. Selang beberapa bulan ibu sudah dapat beraktivitas seperti biasanya melayani karyawan pabrik karet.

Sedangkan pabrik kayu yang terbakar dibangun lagi di seberang sungai dari rumah kami. Dan kami dibangunkan juga warung untuk melayani karyawan perusahaan yang mayoritas dari Pontianak dan tamu-tamu perusahaan.

Kami sempat khawatir dengan kesibukan ibu dibantu adik Ajun, tapi ibu selalu mengatakan tidak apa-apa, sudah sehat seperti biasa. Hal ini terlihat wajahnya yang merona dan ceria.

Saya sendiri kadang jarang menemani ibu karena sibuk bisnis kulit kayu gembor yang kala itu lagi booming. Bapak dan kakak laki-laki di bagian mekanik perusahaan itu, yang bosnya bernama Sin Mio, orang terkaya di Pangkalan Bun. Anaknya bernama Seng Seng terkenal di kota Pangkalan Bun.

Praktis kehidupan kami secara ekonomi cukup baik, semuanya berjalan seperti air mengalir. Sementara kehidupan bermasyarakat pun semakin akrab tanpa dibatasi sekat agama, suku dan ras.
Saya sudah sering main ke tetangga di luar perusahaan. Panggilan akrab Apung semakin sering terdengar akrab di telinga. Saya merasakan kehidupan yang begitu damai, saling menghargai, saling mengasihi, saling menolong dan saling memberi. Akhirnya kami merasa kami punya keluarga besar yang lain agama, yaitu masyarakat sekitar dan karyawan perusahaan.

Ternyata riak-riak kehidupan tetap menghasilkan. Selang setahun lebih sejak keluar rumah sakit, ketika pulang dari pabrik di seberang sungai (warung ibu di seberang sungai dan kami masih tinggal di rumah perusahaan); mendadak ibu kejang-kejang seperti orang ayan/epilepsi, tenaganya kuat, giginya kemeretak, matanya melotot, suaranya membesar seperti suara laki-laki tua. Akhirnya diketahui ibu kerasukan lagi. Suasana di pabrik jadi panik. Berbagai cara dan puluhan orang pintar didatangkan, blm ada yang bisa mengatasinya. Dari pukul 08.00 sampai 16.00 sore keadaan tetap sama. Mata ibu kadang terpejam kadang melotot, mulutnya mengeluarkan suara seperti mendengkur dan berat, dan tenaganya luar biasa harus dipegang empat orang kalau jinnya datang.

Dalam keputusasaan kami, ada informasi bahwa ada orang pintar bernama bapak Master. Atas pertolongan karyawan akhirnya beliau mau dijemput sekitar pukul 19.00.

Begitu datang beliau minta permisi sebelum memeriksa ibuku.
Setelah itu beliau minta daun sirih bertemu urat, minyak klentik (goreng) dan kapur sirih. Daun sirih diolesi minyak dan dikasih kapur sirih lalu beliau komat kami.

Setelah itu beliau tempelkan ke perut ibuku dan spontan reaksi kuat dari ibu seperti orang ketindihan barang berat. Beliau suruh diikat daun sirih tersebut  dengan kain agar tidak jatuh. Beliau bilang, “tadi saya baca doa agar sirih tersebut beratnya 300 kg dan jinnya pasti menyerah dan pergi.”

“Wah hebat sekali,” dalam hati saya.
Setelah beliau pulang, saya masih terngiang kata jadi 300 kg sampai sekarang. Inilah yang menjadi motivasi saya berkeliling pulau Jawa dari ujung timur sampai ujung barat untuk belajar ilmu “300 kg.” [mrm]

Bersambung…..

*Ustadz Abdul Hadi (Lay Fong Fie), Pengasuh Padepokan Hikmah Sejati, Yogyakarta.

 

Selengkapnya

  1. Kisah Muallaf bagian 1
  2. Kisah Muallaf bagian 2
  3. Kisah Muallaf bagian 3
  4. Kisah Muallaf bagian 4
  5. Kisah Muallaf bagian 5
  6. Kisah Muallaf bagian 6
  7. Kisah Muallaf bagian 7
  8. Kisah Muallaf bagian 8
  9. Kisah Muallaf bagian 9
  10. Kisah Muallaf bagian 10
  11. Kisah Muallaf bagian 11
  12. Kisah Muallaf bagian 12
  13. Kisah Muallaf bagian 13
  14. Kisah Muallaf bagian 14
Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!