Tausiah

Mesjid Al-Jihad – Medan Justru Banjir Dana Gara-gara Dikelola Berbasis Kesukarelaan dan Pelayanan Lillahi Ta’ala

Nusantarakini.com, Jakarta –

Bila di Yogyakarta ada sebuah mesjid terkenal dengan inovasi dan aneka programnya, yaitu Jogokariyan, lain lagi dengan Mesjid Al-Jihad, Medan.

Mesjid ini tadinya mengandalkan pendanaan dari pola managemen profesional dengan mengenakan tarif parkir dan lain sebagainya. Rupanya hal itu tidak memberi pemasukan yang cukup bagi mesjid untuk menutupi pengeluarannya. Akhirnya ditempuhlah cara tradisi Islam. Hasilnya banjir dana.

Seperti apakah hal tersebut, tulisan di bawah ini menceritakannya. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberi kabar gembira bagi para DKM yang bingung mengelola mesjid dengan produktif.

Prof Muhammad Asaad adalah Rektor UISU. Baru-baru ini kami bertemu dalam suatu agenda pembicaraan muamalah. Dia mengatakan bahwa selain dipercaya menjadi rektor, dia juga dibebani tugas sebagai ketua yayasan yang mengelola Masjid Al Jihad di Jalan Abdullah Lubis Medan.

Dulu, katanya, mereka kesulitan mencari dana untuk memenuhi keperluan-keperluan masjid ini. Kadang harus mencari donatur, bikin proposal, dan sebagainya. Bahkan, ia memberlakukan tarif parkir untuk menambah kas, tapi hasilnya sangat kecil sekali dibanding keperluan masjid.

Sebagai informasi, Masjid Al Jihad adalah salah satu masjid terbesar dan terluas di Medan dengan jumlah jamaah yang selalu ramai. Orang tidak hanya shalat di sini, tapi juga beristirahat, menjadikannya meeting point, belajar, ceramah dan seterusnya. Traffic ini memerlukan manajemen dan dana yang besar.

Hingga ia kemudian memutar cara mengumpulkan dana dengan prinsip muamalah. Bahwa orang yang datang ke masjid tidak boleh dipersulit apalagi ditarik bayaran. Tidak boleh ada tarif parkir. Tidak boleh ada pungutan lain. Tidak boleh ada permintaan sumbangan. Sebagai gantinya, Prof Asaad membuat kotak infaq dan sedekah yang diletakkan di dekat halaman parkir. Orang boleh parkir sesukanya selama yang mereka suka. Halaman parkir malah diperbaiki, ada petugas yang mengatur, ada staf kebersihan. Semua itu digaji.

Setelah menerapkan sistem ini, sebulan kemudian ia mengecek, dan bertanya kepada petugas parkir, berapa dana infaq yg terkumpul.

Dulu, kata Prof Asaad, setiap orang benar-benar membayar tarif parkir resmi Kota Medan, yaitu Rp 3.000. Setelah sistem infaq, ma shaa Allah, kotak infaq rata-rata mencapai Rp 30.000.000 per bulan. Sering sekali jemaah yang singgah memasukkan uang Rp 100.000 ke kotak infaq parkir. Bahkan di kotak sedekah, dana yang terkumpul jauh lebih melonjak.

“Kini saya malah bingung bagaimana mengelola dana infaq dan sedekah yang terkumpul hingga Rp 2 miliar per tahun,” kata Prof Asaad.

Sekarang, Masjid Al Jihad adalah tempat ibadah yang paling tinggi pelayanannya di Medan. Setiap orang bisa minum air kemasan botol atau kopi panas secara gratis. Kopi panas tinggal tampung dari galon. Tempat wudhuk dan parkirnya luas macam sepakbola. Masjid yang wangi dan karpet senilai ratusan juta rupiah. Anak-anak belajar agama tiap sore dengan guru-guru yang dibiayai sepenuhnya. Semua fasilitas ini seperti karakter masjid-masjid di zaman kekhalifahan.

Yang paling penting, manajemen Masjid Al Jihad tidak terpancing untuk membangun kemewahan gedung dan fisik, tapi lebih kepada pemenuhan kebutuhan dan kenyamanan jamaah. Sekarang masjid ini dikenal sebagai masjid dengan kegiatan tertinggi di Medan, jauh melampaui Masjid Agung Propinsi Sumut yang dibiayai besar-besaran oleh pemerintah, yang bahkan akan segera dibangun menjadi mesjid dengan menara tertinggi ketiga di dunia.

Ternyata, Allah memang menyuburkan sedekah, dan memusnahkan riba.

~ Tikwan Raya Siregar

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top