Nasional

Ini yang Bisa Dibandingkan antara Lee Kuan Yew dan Ahok ‘Si Penista’

Nusantarakincom, Jakarta – 

“Pertahankan Jakarta: Cegah Dominasi Cina!!!”

Demikian himbauan dari Tim SatuNegeri untuk Jakarta melalui pesan elektronik yang diterima redaksi Nusantarakini.com, menyikapi situasi yang kurang kondusif atas perlakuan warga etnis Tionghoa pada umumnya yang dianggap sudah sangat keterlaluan terhadap warga negara Indonesia asli atau pribumi.

Berikut keterangan selengkapnya yang bisa disimak:

 

LEE KUAN YEW dan AHOK SI PENISTA

“Belajarlah dari Nasib Melayu Singapura yang disingkirkan Lee Kuan Yew Secara Sistemik dan Terancam.”

Lee Kuan Yew telah melakukan upaya sistematis dan terencana menyingkirkan penduduk pribumi/Melayu dari Singapura. Untuk itu Lee Kuan Yew pada awalnya merangkul dan menunjukkan simpati, seolah-olah dia adalah bagian dari mereka, bangsa Melayu.

Lee Kuan Yew tak segan-segan mengenakan peci dan blusukan ke banyak kampung guna memperoleh dukungan, sehingga akhirnya Lee Kuan Yew terpilih menjadi pemimpin Singapura.

Rakyat muslim percaya pada Lee Kuan Yew yang dianggap tegas dan merakyat. Senyumnya tampak tulus dan sering memberi santunan. Lee Kuan Yew selalu dielu-elukan para pendukung karena rela berkorban demi meraih kekuasaan.

Ternyata dibalik senyum dan sikap merakyatnya, Lee Kuan Yew menyimpan niat dan  agenda busuk: menyingkirkan bangsa Melayu dari pusat-pusat kota dan bisnis untuk dipindahkan ke area pinggiran. Bangsa Melayu pun dijauhkan dari kesempatan mengembangkan diri dan terlibat dalam kekusaan negara.

Setelah berhasil menyingkirkan penduduk asli dan berkuasa cukup lama, Lee Kuan Yew berani mengungkap kebencian. Lee mengatakan semua agama dan suku bisa menyatu dan diterima di Singapura, kecuali Islam. Belakangan Lee mengakui bahwa selain anti Islam, dia pun anti bangsa Melayu.

Lee Kuan Yew bangga mengintervensi dan melanggar HAM bangsa Melayu. Lee mengatakan, jika tidak melakukan intervensi dan tekanan kepada bangsa Melayu, maka Singapura tidak akan seperti sekarang. Lee Kuan Yew pernah mengatakan tidak mungkin non-cina memerintah Cina, yang ada Cina lah yang memerintah non-Cina.

Setelah kebijakan politik rasis puluhan tahun oleh Lee Kuan Yew, serta dilanjutkan pula oleh anaknya yang sekarang menjadi PM Singapura, BG Lee, maka saat ini mayoritas pribumi Melayu Singapura hanya menjadi warga negara kelas 2 yang tinggal di pinggiran. Bangsa pribumi Singapura telah tersingkir, menjadi pekerja rendah, buruh kasar atau budak di tanah airnya sendiri, akibat politik rasis Lee Kuan Yew!

Sebagai penduduk pribumi asli Indonesia, nasib tragis yang dialami bangsa Melayu Singapura harus menjadi pelajaran penting, dan tidak boleh terjadi di Jakarta! Penyingkiran warga pribumi Melayu secara terencana dan sistemik oleh Lee Kuan Yew di Singapura harus dicegah agar tidak terjadi di Jakarta.

Ahok sangat potensial untuk bersikap diskriminatif kepada warga pribumi seperti Lee Kuan Yew, sebagaimana terindikasi dari berbagai kebijakan sbb:

# Ahok menggusur rakyat secara brutal, tidak manusiawi, melanggar HAM, serta sekaligus menunjukkan arogansi dan pembangkangan pada hukum. Ahok telah menghina proses pengadilan. Arogansi dan pelanggaran hukum oleh Ahok setidaknya terlihat pada penggusuran di Bidara Cina, Kampung Pulo, Bukit Duri dan Kampung Akuarium.

# Ribuan warga pribumi digusur dan ditempatkan di rumah-rumah susun sewa yang jauh dari tempat kerja semula, sehingga mengalami proses pemiskinan. Mayoritas rakyat pribumi digusur tanpa ganti rugi. Sementara pada sebagian besar lahan hasil gusuran yang berada di tengah kota, dibangun apartemen mewah untuk dijual dengan harga tinggi kepada warga Cina.

# Mayoritas warga yang tergusur mengalami pemaksaan brutal oleh Satpol PP yang didukung aparat TNI/Polri. Aparat TNI/Polri mengamankan kebijakan Gubernur Ahok dengan dukungan dana secara illegal dari APBD DKI dan para konglomerat pengembang properti. Rakyat korban gusuran mengalami penindasan aparat TNI/Polri sebagai abdi negara/rakyat, seperti layaknya terjadi pada zaman kolonial Belanda/VOC.

# Ahok membangun sejumlah proyek melalui skema non-budgeter dengan bekerja sama dengan para konglomerat. Pembangunan proyek-proyek ini melanggar UU No.30/2014 tentang Administrasi Pemerintahan dan sangat potensial terjadinya KKN.

# Ahok melakukan tindakan ilegal karena memberi izin reklamasi tidak sesuai UU No.30/2014. Dalam proyek reklamasi, Ahok dengan angkuh menantang putusan pengadilan yang telah menunda proses reklamasi atau memenangkan gugatan para nelayan. Ahok juga diduga terlibat korupsi seperti terungkap dalam persidangan kasus suap Presdir Agung Podomoro Land, Ariesman Wijaya.

Sehubungan dengan hal-hal di atas, masa depan rakyat Jakarta dan bahkan bangsa Indonesia berada di tangan anda para pemilih dalam Pilkada DKI 2017:

“Pastikan bahwa anda tidak memilih Paslon Gubernur-Wakil Gubernur yang berpotensi bersikap sama dengan Lee Kuan Yew yang telah menyingkirkan bangsa pribumi Melayu Singapura dari tanah airnya.”

“Pastikan bahwa anda tidak memilih Ahok si penggusur rakyat secara brutal demi kepentingan bisnis konglomerat dan lebih memihak warga Cina, sekaligus akan menyingkirkan anda para kaum pribumi dari tanah air leluhurmu!”

“Pastikan bahwa anda hanya memilih Paslon Anies-Sandi yang tidak akan pernah menggusur, anti reklamasi, menyiapkan hunian terjangkau dan pasti pro warga pribumi.” [mc]

*Marwan Batubara, Tim SatuNegeri untuk Jakarta

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top