Politik

SMRC Rilis Survei Abal-Abal?


13 April 2017, 8:07
Dilihat   2.2K

Nusantarakini.com. Hasil survei SMRC terakhir mengandung keanehan. Mengapa survei yang secara metodologi kacau ini tetap dipublikasikan? Apakah ini survei pesanan dari salah satu Paslon untuk menggiring opini publik? Berikut ini ulasan dari Canny Watae yang mengungkap berbagai keanehan dari metode survei SMRC.

SMRC merilis survey terbaru. Anies-Sandi 47,9% dan Ahok-Djarot 46,9%. Menurut SMRC trend Ahok-Djarot naik, trend Anies-Sandi turun. Sebulan terakhir Ahok naik 3,1% dan Anies turun 2,8%.

Tapi ada yang aneh dengan survey ini.

Sampel yang diambil sebanyak 800 orang dengan metode stratified systemic random sampling. Namun, jumlah responden yang dapat diwawancarai secara valid dan dianalisis hanya 446 atau sebesar 55,8 % dari sampel.

Itu berarti ada sampel yang dikeluarkan (excluded), dan jumlahnya SANGAT BESAR. Bayangkan, sampel yang dikeluarkan sebanyak 44,2% (!).

Dikeluarkannya sejumlah sampel atas alasan apa pun berarti menjauhkan survey tersebut dari metode yang menjadi pilihan awalnya, yaitu metode Stratifikasi. Ada elemen populasi yang dikeluarkan dari kelompok (Strata), yang dalam hukum statistika TIDAK BOLEH dilakukan. Apabila dilakukan, maka metode GUGUR dengan sendirinya.

Mengapa?

Tindakan mengeluarkan sampel itu (apalagi dalam jumlah sangat besar) memporakporandakan angka toleransi kesalahan (margin of error), yang dalam survey tersebut diklaim +/- 4,7%. Pengurangan sampel otomatis membuat angka toleransi kesalahan meroket ke puluhan persen (!). Mengikuti hukum statistika, tindakan itu ikut mengerek turun angka tingkat kepercayaan ke titik paling rendah. Tingkat kepercayaan yang diklaim SMRC pada angka 95% bisa jadi sisa 5% saja. Bahasa sederhananya: Survey tak dapat dipercaya.

Maka keseluruhan hasil survey beserta trend yang mengikutinya (Ahok trend naik, Anies trend turun) GUGUR.

By Canny Watae

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!