Tausiah

Ikut Usaha Nabi Ajak Umat Makmurkan Masjid


9 April 2017, 12:28
Dilihat   1.6K

Nusantarakini.com, Jakarta – 

Setelah khilafah runtuh, saat ini institusi mana sekarang yang mampu mengorganisir kerja dakwah secara sistematis dan global.

Maulana Ilyas seorang ulama keturunan sahabat Abu bakar RA. Atas risau pikir beliau menghidupkan usaha nabi kembali berpusat di Masjid Bengwali Nizomudin India. Satu pikir, satu kerja, satu gerak dengan harta diri, waktu khuruz fii sabilillah mengajak umat kembali amalkan ajaran islam.

Iman, akhlaq, hubungan sosial dan ekonomi siasah (politik) ada fasenya. Kondisi umat sekarang di tepi jurang-jurang neraka karena jauh dari amal agama. Kalau bukan kita yang mengajak, siapa lagi yang perduli dengan nasib dan mengingatkan mereka kembali kepada Alloh, agar selamat dari azab dan masuk surga Alloh tanpa hisab?

Risau nabi adalah sunnah terbesar. Bukankah nabi saat beristirahat nafas di dadanya terdengar seperti suara uap air ketel. Menjelang wafatnya ia terus memikirkan umat. Inilah risau nabi yang harus ada dalam diri setiap org muslim, sehingga ia  harus memikirkan bagaimana umat dapat mengamalkan agama secara sempurna.

Jika umat sudah kembali kepada ajaran agama, masjid sebagai sentral amaliahnya, (zikir ibadah, taklim wal taklum, khimad, dakwah ilallah), maka pertolongan ghoybiyah Alloh akan datang. Pemimpin,  khilafah, keberkahan adalah hadiah dari Alloh jika umat taat kepada Alloh.

Disabdakan Rosululah SAW pemisah antara orang beriman dan kafir adalah sholat. Munkar di atas munkar adalah orang islam meninggalkan sholat dengan sengaja.

Jadi Induknya munkar adalah orang islam meninggalkan sholat. Bukan korupsi, zina, dsb. Jika orang islam sholat dengan benar ikut contoh nabi berjamaah di masjid, tertib, khusyu’ dan khudu, sholatnya itu akan mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar.

Berapa banyak orang islam di Indonesia dan di dunia meninggalkan sholat. Satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, atau bertahun tahun. Sebaliknya adakah orang islam tidak makan seminggu bahkan satu hari? Tidak ada, meski ia berprofesi sebagai gelandangan sekalipun. Masalah umat islam bukan soal ekonomi tetapi orang islam ingkar perintah Alloh.

Jika ada kemaksiatan di rumah tangga dan di kampung tempat tinggal kita, sementara kita asyik beribadah sendiri tanpa peduli dengan saudara kita, maka adzab Alloh akan menimpa kita. Kewajiban kita mengajak tetangga kita 40 rumah.

Soal iman, sunnah, berkasih sayang dengan sesama muslim dan ajak-ajak itulah yang akan ditanya Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur. Tidak ada ditanya kita hafal nama bapak nabi, teori Revolusi Bolsevik, memikirkan khilafah, anda orang NU, Salafi ataupun syi’ah.

Apakah ditegakkan syareat islam dan khilafah itu penting? Sebagai muslim tentu kita sangat setuju. Tapi itu risau terlalu tinggi dan bisa menjadi utopia jika umat islam sendiri belum siap. Karena umat masih banyak yang mabuk dan cinta dunia. Masjid sepi, sementara yang tinggal di kampung mayoritas orang islam. Hal ini menunjukkan fondasi iman umat masih rapuh.

Dengan fakta yang ada bukan khilafah yang berdiri, sebaliknya malah orang islam banyak yang murtad. Tangan umat islam banyak putung dan dirajam jika syariat berdiri.

Tugas mengajak umat makmurkan masjid dan turut usaha nabi sepertinya kerja sepele, tapi kenyataannya beratnya minta ampun. Dari pada sekedar diskusi teori yang berat-berat dan melambung ke langit, kalau dakwah lewat radio dan medsos mah lebih gampang lagi.

Kita juga harus paham maksud dan keperluan. Seperti membangun masjid hanya keperluan. Karena masjid sdh berdiri berjibun. Setiap tiga meter ada masjid tapi isinya yang sholat cuma tiga orang. Usaha memakmurkan masjid itu jadi maksud.

Maaf saya tidak bermaksud menyepelekan perjuangan harokah islam apapun. Saya hanya urun rembug berbagi pemikiran.

*Jiher, Sang Pengembara [mc/amin]

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!
Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu