Warkop-98

MENULIS UNTUK PERLAWANAN


11 January 2017, 7:57
whatsapp-image-2017-01-11-at-7-43-10-am
Dilihat   255

Nusantarakini.com, Jakarta-

MENULIS UNTUK PERLAWANAN

Oleh: Suparman*

Sejarah perkembangan manusia tidak terlepas dari catatan-catatan kecil berupa tulisan yang berdasarkan pikiran, rasa dan karsa dimiliki manusianya, sebagaimana kontes zaman.

Pada zaman purba manusia menulis dibokahan batu, seiring proses kemajuan pemikiran manusia dapat menciptakan suatu yang sesuai kebutuhan zaman, seperti manusia dapat menciptakan kertas, maka manusia menuangkan tulisan dalam kertas serta media massa. Dan manusia dapat menciptakan telekomunikasi, maka manusia dapat menuangkan isi pikiran, rasa, dan karsa di media elektronik dan media sosial.

Manusia menulis adalah sesuatu yang dianggap penting, luar biasa, dan unik dalam proses kehidupan yang dilaluinya serta mencatat nilai-nilai yang sakral dan protes kepada realitas sosial yang bertentangan dengan hati nuraninya, sebagaimana yang terjadi dan tertulis didalam sejarah peradaban dunia. Selain itu, menulis merupakan mengundang nilai perlawanan terhadap ketidakadilan dan ketidakbenaran, bahkan mengungkap kemunafikan serta mengajak untuk kembali kepada kebaikan dan kebenaran.

Hal demikian, dilakukan oleh para tokoh pergerakan nasional Indonesia, seperti bapak Cokroaminoto melawan pemerintahan kolonial Belanda dengan tulisan-tulisan di koran Bendera. Dan Soekarno juga melakukan hal yang sama dengan menulis “Indonesia Menggugat” serta membacanya di depan pengadilan kolonial Belanda di Bandung. Selain itu, Sjahrir menuliskan “Perjuangan Kita” sebagai upaya melawan penjajahan kolonial Belanda dan Fasisme Jepang saat itu.
Di sisi lain, Manusia menulis adalah suatu cara menanggapi terhadap pemahaman manusia satu dengan manusia lain, seperti dilakukan oleh Agus Salim dan Soekarno terkait pemahaman nya tentang “Nasionalisme”.
Tidak hanya itu, Manusia menulis untuk menyampaikan kritik dan meluruskan pemahaman, seperti dilakukan Muhammad Natsir menulis “Islam dan Akal Merdeka” untuk tulisan Soekarno, “Islam Sotoloyo”. Di lain pihak, Manusia menulis untuk kepentingan kelompok serta pertarungan Ideologi, seperti dilakukan oleh Masyumi dan PKI.

Disamping itu, Manusia menulis adalah bentuk kontrak sosial dan kontrol terhadap kekuasaan untuk sadar berkonstitusi supaya tidak ada penjajahan manusia atas manusia lain. Dan bila dibiarkan, maka hal itu merupakan tidak sewajarnya dalam berbangsa dan bernegara, seperti Muhammad Hatta menulis “Demokrasi Kita”

Sikap dan tindakan yang dilakukan oleh para fouding father tiada lain hanya persatuan perdapat untuk kepentingan rakyat Indonesia supaya terhindar dan terbebas dari pengaruh para penjajahan saat itu, karena para penjajah melakukan politik inlander dan politik belah bambu. Selain itu, para tokoh pergerakan nasional sering dituduh makar dan pemberontak oleh pemerintah kolonial Belanda dengan kekuasaan totaliterismenya serta melakukan penangkapan tanpa proses hukum kepada tokoh-tokoh pergerakan nasional tersebut. Namun, hal demikian merupakan sesuatu yang dilalui oleh manusia yang menginginkan kebaikan untuk nasib bangsa dan negara dalam status qou.

Manusia menulis dapat dikatakan sebagai partisipasi rakyat berupa isi pikiran, rasa dan karsa yang disertai data dan fakta terhadap kondisi bangsa dan negara yang jauh dari dicita-citakan bersama. Oleh karena itu, manusia menulis diberikan ruang sebagai bentuk kreativitas dan cinta tanah air. Selain itu, tidak boleh melarang kreativitas manusia dalam menulis, karena manusia menulis tiada lain dan tiada bukan khasanah intelektualisme manusia.

Kalaupun ada manusia menulis buku sebagai khasanah intelektualisme dalam bentuk karya ilmiah dalam mengkritik dan mengungkap sesuatu yang ketidakbenaran dalam berbangsa dan bernegara, maka ditanggapi dengan cara-cara khasanah intelektualisme pula, setelah itu dilakukan dengan cara proses hukum yang berlaku serta bukan dengan cara subversif. Selain itu, Rezim tidak boleh menggunakan perangkat pemerintah dan negara untuk membasmi suara rakyat yang mengkehendaki kebaikan dalam bangsa dan negara serta tidak melakukan mobilitas rakyat yang satu untuk dihadapkan dan menghadapi rakyat yang lainnya.

Jikalau hal tersebut dilaksanakan, maka dapat mencerminkan kemajuan dan kualitas dalam berdemokrasi. Dan sebaliknya, kalau tidak dilaksanakan, maka kemunduran dalam berdemokrasi, bahkan dapat diberikan labelisasi “Negara Totaliterisme”. (mc)

Wallahu A’lam.

*Kader HMI MPO Cabang Mataram

Facebook Comments
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Close
Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu