iklan
Analisa

ISLAMPHOBIA, SNOUCK DAN PATER BEEK


17 October 2016, 17:55
snouck-pater-beek
Dilihat   343

Nusantarakini.com, Jakarta-

Biasanya Islamphobia terjadi negara yang umat Islamnya minoritas seperti di Prancis, umpamanya. Di Prancis karena tingginya Islamphobia, perempuan Muslim pakai burqa dilarang. Uniknya, di Indonesia juga terjadi Islamphobia yang justru umat Islamnya mayoritas.

Maka propaganda untuk mendiskriditkan Islam dengan segala cara, baik perilaku umat Islam, partai-partai Islam hingga ormas-ormas Islam terjadi sangat masif dan terstruktur. Contohnya ketika membicarakan PKS, maka yang dibahas pimpinan PKS istrinya lebih dari satu untuk mengesankan PKS bukan partai pro gender ala Barat. Sementara langkah-langkah PKS dalam kerja-kerja sosial seperti membantu korban banjir, tanah langsor dan bencana alam lainnya, tidak dianggap.

Ketika membicarakan FPI, umpamanya, yang dipropaganda oleh kalangan Islamphobia bahwa organisasi sekumpulan preman berjubah yang suka menebar teror. Sementera aksi FPI untuk melakukan reboisasi dan pembangunan rumah sakit di Palestina disembuyikan dari berita-berita.

Terakhir, dalam demonstrasi kemarin, kalangan Islamphobia mencoba menggambarkan bahwa demo umat Islam tersebut tidak menyanyangi tanaman dengan merusak taman di depan Balai Kota. Sementara subtansi dari demo tersebut yang meminta kepolisian tidak main mata dengan penguasa, dikaburkan. Islamphobia sebetulnya warisan era kolonial ketika para orientalis menyebut umat Islam sebagai kafir.

Jadi istilah kafir ini bukan monopoli Islam, tetapi juga kalangan Nasrani. Dalam sastra bisa dilihat dari novel Karl May, “Dan Damailah di Bumi” dimana tokohnya yang Nasrani menyebut umat Islam di Mesir sebagai kafir. Para pendeta Abab Pertengahan juga menyebut umat Islam sebagai kafir.

Bagaimana kaum orientalis melihat Islam sebagai kafir silakan baca buku Edward Said, “Orientalisme”. Di Indonesia bapak Islamphobia ada dua: Snouck dan Pater Beek. Snouck hidup pada era kolonial. Ia masuk Islam, pernah berhaji dan mengubah namanya dengan Haji Abdul Gaffar. Tulisan-tulisan Snouck untuk laporan pada kekuasaan kolonial di Belanda kuat aroma Islamphobianya. Pun, disertasi doktorolnya tentang “Perayaan Mekkah”.

Sementara Pater Beek muncul pada periode peralihan kekuasaan Sukarno dan Suharto. Pendiri Kasebul (Kaderisasi Sebulan untuk kader kader militan Katolik) itu menyebut Islam sebagai setan besar, sehingga Pater Beek memerintahkan kader-kadernya untuk merangkul setan kecil (tentara) guna menindas umat Islam (dikutip dari tulisan George Aditjondro).

Tentu kita tahu bagaimana CSIS dan Jendral Benny terus menerus mempropagandakan Islamphobia. Peristiwa jamaah Imran, pembajakan pesawat Woyloya, komando Jihad, Warsidi di Lampung hingga Tanjung Priok, merupakan usaha-usaha untuk menanamkan perasaan Islamphobia itu: bahwa Islam agama kekerasan dan teroris. Sekarang pun Islamphobia masih terus terjadi. Usaha-usaha untuk mendiskriditkan umat Islam, ormas Islam dan partai Islam terus berlangsung. Bedanya, ketika pada masa Orde Baru umat Islam tidak memberikan perlawanan secara terbuka, sekarang melakukannya secara terang-terangan. Tentu ini yang dianggap ancaman bagi kalangan Islamphobia.

Terlepas dari masalah Islampobia, sebagai catatan: Dalam konteks Pilkada DKI kita tahu siapa yang mendukung Basuki dan siapa Sekjen PDIP.

*Ragil Nugroho (*mc)

Facebook Comments
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Close
Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu