iklan
Analisa

DUKUNG AHOK, GOLKAR BINASA. Analisa Kritis Kader Muda Golkar


9 October 2016, 17:39
golkar-tolak-papa-minta-saham
Dilihat   1.7K

Nusantarakini.com, Jakarta-

Menanggapi pernyataan salah seorang pengurus DPP Partai Golkat soal keharusan Ahok membantu membesarkan Golkar, justru menambah kekhawatiran yang besar bagi kalangan keluarga besar Golkar terhadap manfaat dukungan yang diberikan Golkar kepada Ahok dalam Pilkada Gubernur DKI.

Pertama, di tengah berbagai kontroversi Ahok di masyarakat yang semakin meluas, sebenarnya Golkar sudah mendapatkan resiko ancaman terkena dampak negatif dari kontroversi-kontroversi yang terus berlanjut oleh Ahok.

Kedua, sejak awal pencalonannya, Ahok dan pendukungnya berkali-kali menunjukkan sikap “anti partai politik”, bahkan pernyataan dan sikapnya cenderung merendahkan dan mengerdilkan keberadaan parpol. Di satu kesempatan, Ahok pernah sampai mengatakan, bahwa dia akan lebih memilih tidak maju sebagai Gubernur apabila pilihannya meninggalkan “Teman Ahok” daripada diusung parpol.

Namun yang ketiga, kemudian tiba-tiba Ahok berubah 180 derajat, seakan sekarang yang paling merasa dianggap dan diperebutkan sebagai kader parpol, setidaknya Golkar dan PDI-P. Lantas, buat Golkar indikatornya apa bahwa Golkar akan mendapat manfaat atas dukungannya terhadap Ahok?

Sudahlah figurnya kontroversial, sejak awal anti parpol, kemudian “menurunkan derajat” Golkar sebagai pengusung menjadi pendukung, setelah diusung PDIP. Lebih menyakitkan lagi, ternyata Sdr. Nusron Wahid, yang selama ini berkorban mengambil resiko jabatannya demi mendukung Ahok dan mewakili simbol Golkar, pun tidak pernah diakui Ahok sebagaj Ketua Tim, dan akhirnya digusur oleh Ahok dan PDIP. Kalaupun ada yang menggugat Sdr. Nusron karena sebagai pejabat publik, seharusnya yang menggantikannya tetap adalah kader/pengurus Golkar, bukan kader partai lain.

Pertanyaannya kembali, apa bisa Golkar tetap mengharapkan Ahok akan membantu besarkan Golkar? Apa Ahok juga tidak menjanjikan hal yang sama dengan PDIP dalam kontrak politiknya? Atau dengan Partai Nasdem dan Partai Hanura juga sebelumnya? Yang mungkin terjadi kemudian nanti adalah, bila dilihat kebiasaan Ahok yang suka “omong kosong” dan “umbar janji” adalah kalau tidak PDI-P yang dibohongin, ya Golkarlah yang kena sialnya. Nah, oleh karena itu sangatlah wajar, apabila dari kalangan keluarga besar Partai Golkar sangat skeptis dan khawatir akan situasi itu.

Karena kita semua masih cinta dan ingin Golkar tetap besar. Yang ditunggu adalah sikap dan peran petinggi Golkar yang harus bisa memastikan Ahok benar-benar menunjukkan sikap dan pernyataan-pernyataannya untuk tetap menjadi bagian dan tanggung jawab membesarkan Golkar dan meyakinkan seluruh warga Golkar, khususnya di DKI untuk mendukungnya. Bukan dengan cara ancam mengancam pecat kader, cara lama seperti periode sebelumnya, yang membawa malapetaka konflik berkepanjangan bagi partai.

Sebenarnya fenomena itu sudah berulang terjadi. Sebelumnya kelompok muda Golkar lainnya mengambil inisiatif membentuk Agus Fans Club (AFC). Artinya mereka bisa dikatakan sebagian besar menolak Ahok. Hal itu bisa disebabkan krn bbrp hal: pertama, bahwa mereka merasa bahwa kepentingan dan aspirasi mereka tidak terwakili atau malah bertentangan dengan figur Ahok yang kontroversial. Sikap arogan, kasar, SARA, dan sifat buruk lainnya yang sering dipertontonkan, apalagi akhir-akhir ini sering menistakan agama mayoritas, membuat mereka merasa itu bukanlah sesuai dg karakter dan semangat yg selama ini dikembangkan di dalam tubuh Partai Golkar.

Kedua, mereka merasa proses penetapan Golkar mendukung Ahok terkesan begitu terburu-buru, tertutup dan ekslusif, top down, serta tidak melalui proses pelibatan respons, reaksi, dan aspirasi warga Golkar secara keseluruhan.

Ketiga, gejala itu juga menunjukkan bahwa konsolidasi yang dilakukan oleh pimpinan Golkar dalam meyakinkan dan mengajak warga Golkar khususnya di DKI belum maksimal dilakukan, kalau tidak bisa dibilang gagal.

Keempat, ada juga yang bermotif lebih ekstrim, untuk menyatakan bahwa pilihan Golkar terhadap Ahok adalah pilihan yang tidak tepat dan bahkan bisa merugikan Partai Golkar.

(“jadi nggak usah pikiran,’ah…nanti kalo nggak kepilih pasti Ahok programnya bubar’, nggak!. Saya (Ahok) masih terpilih sampai Oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak pilih saya (Ahok), ya kan!. Dibohongin pake surat Al Maidah ayat 51, macem – macem itu, itu hak bapak ibu, jadi bapak ibu nggak bisa milih nih,’karena saya (bapak ibu) takut masuk neraka’, nggak apa-apa”.)

Menyikapi kutipan pernyataan Ahok di atas, saya menilai Ahok sudah sampai pada mengundang orang banyak untuk melewati batas sabarnya. Arogansi dan sikap kasarnya semakin hari semakin “melunjak” serta menunjukkan sikap yang jauh dari upaya membangun masyarakat Indonesia yang beradab, toleran, dan cinta damai.

Sikapnya tidak saja selalu mengundang amarah, merusak kedamaian, dan menyakitkan manusia, namun sudah sampai pada menyerang bahkan menista agama Islam. Ahok telah menghina Al Qur’an, yang artinya telah menghina ummat Islam seluruh dunia. Ini bukan lagi sekedar soal pilgub DKI semata. Ini sudah masuk pada urusan menyerang keyakinan banyak orang dan merendahkan agama tertentu di luar agamanya. Ahok sama sekali tidak memahami bahkan bertentangan dengan Pancasila dan karakter dasar bangsa Indonesia.

Saya sebagai seorang muslim dan juga kader Golkar merasa tersinggung. Oleh karena itu, saya mendesak agar Partai Golkar untuk segera menarik dukungannya kepada Ahok, karena Ahok yang didukung oleh Partai Golkar sudah tidak sesuai lagi dengan jiwa, semangat, dan nilai-nilai yang selama ini dikembangkan dalam Golkar yang berazaskan Pancasila dan UUD 1945.

Figur Ahok sdh tidak relevan lagi dengan Doktrin Karya Kekaryaan dan Ikrar Panca Bhakti Golkar. Sikap yang ditunjukkan oleh Ahok yang mengajak orang untuk tidak percaya/mengingkari Kitab Suci dan keyakinannya telah bertentangan dengan Ikrar pertama Panca Bhakti.

Selain itu sikap dan pernyataan Ahok yang sering menimbulkan pro kontra dan mengundang amarah orang telah menebar ancaman persatuan dan kesatuan bangsa, bertentangan juga dengan Ikrar ketiga Panca Bhakti.

Saya menggugah hati nurani pimpinan dan seluruh keluarga Partai Golkar agar segera mengambil sikap “cabut dukungan” terhadap Ahok. Saya khawatir kemarahan umat yang dihina oleh Ahok akan berdampak negatif terhadap Golkar. Sebagai sebuah partai yang memiliki karakter nasionalisme-religius, Golkar tidak pantas memberikan dukungan terhadap figur yang anti agama dan anti persatuan bangsa.
(*mc)

*Achmad Doli Kurnia (Politisi Kader Muda Partai Golkar)

Facebook Comments
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Close
Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu