Analisa

Gula dan Mie Instan, Alat Penjajahan Pangan Yang Tak Pernah Digugat

Nusantarakini.com, Jakarta – Ada apa dengan gula dan mie instan sehingga dikaitkan dengan penjajahan? Mungkin itu pertanyaan yang langsung terbersit ketika membaca judul tulisan ini.

Penulis melihat dari sisi lain dengan hadirnya gula dan mie dalam perjalanan hidup masyarakat Indonesia.

Baik gula maupun mie, ternyata keduanya memiliki tiga kesamaan yang ada kaitannya dengan penjajahan. Itu jika Anda sepakat dengan saya bahwa aspek terdalam dari penjajahan adalah intervensi pengubahan tradisi, ketergantungan suatu populasi dan eksploitasi ekonomi.

Marilah kita periksa apa yang terjadi pada gula. Gula adalah produk pangan yang dihasilkan dari tebu melalui pengolahan di pabrik.

Semula gula tidak begitu populer dalam tradisi pangan orang Indonesia. Akan tetapi, setelah Belanda terkuras keuangannya oleh akibat perang Jawa yang dilancarkan Pangeran Diponegoro, maka timbullah ide bagi penjajah untuk menciptakan sumber keuangan baru dengan memaksa penduduk Jawa untuk memproduksi gula. Caranya, areal sawah masyarakat dipaksa tanam dengan tebu. Tebu itu dikirim ke pabrik-pabrik gula yang dibangun oleh Belanda dan sebagian orang China kaya.

Gubernur Jenderal Van Den Bosch memerintahkan agar daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah menanam tebu. Sedangkan Jawa Barat, tetutama Priangan, menanam kopi dan teh.

Selama Cultuurstelsel (Tanam Paksa) dari tahun 1831 – 1870, di Jawa Tengah dan Jawa Timur telah berdiri 100 pabrik gula. Sejuta petani tebu dan 60.000 buruh pabrik terlibat dalam Tanam Paksa tersebut. 70% areal pertanian digantikan dengan tebu, akibatnya terjadi banyak kelaparan akibat kelangkaan beras.

Digambarkan ketika itu, akibat melimpahnya tebu dan kurangnya tanaman lain, semua makanan memakai air tebu. Dalam waktu singkat, cita rasa dan tradisi makanan orang Jawa Timur dan Jawa Tengah berubah menjadi serba manis. Sebab, terdapat pemaksaan sistematis agar orang Jawa berkembang menjadi konsumen gula untuk menambah pasar gula yang ada.

Sejak itulah, cita rasa masakan Jawa Timur dan Jawa Tengah terdapat unsur gulanya. Berlainan dengan Jawa Barat maupun daerah-daerah lain. Jadi jelas, tradisi pangan dari gula memiliki kaitan langsung dengan penjajahan.

Mie instan juga tidak jauh beda. Mie instan ini, mulai hadir pasca krisis G30S/PKI dan seiring berdirinya Orde Baru. Idenya tidak jauh beda dengan gula. Menciptakan sumber pangan sekaligus sumber pemasukan keuangan dengan karakteristik massal.

Pada awalnya adalah merk Supermi, kemudian oleh Liem Soei Liong alias Sudono Salim, tangan kanan bisnis Soeharto, diproduksi Sarimi. Kemudian muncul Indomie, lantas ketiganya diborong oleh Salim Group milik Liem Soei Liong menjadi milik usahanya. Proses itu terjadi sejak 1969.

Akibatnya, secara perlahan orang Indonesia berganti tradisi pangan. Indomie sebagai merek terkenal, dipersepsikan sebagai makanan pokok yang murah dan gampang bagi masyarakat untuk pengganti nasi.

Celakanya, karena bahan dasarnya adalah gandum yang diimpor, terutama dari Australia, maka semakin dikampanyekan makan mie terhadap masyarakat, maka semakin tergantunglah Indonesia terhadap impor gandum. Sedangkan Indofood sendiri menikmati dua keuntungan: ketergantungan konsumen kepada dirinya, dan juga ketergantungan produsen gandum seperti Australia kepada dirinya.

Indofood pada 2015 berhasil memproduksi lebih dari 13 miliar bungkus per tahun dengan nilai Rp 31,74 triliun. Untuk kampanye makan mie berupa iklan, hingga kuartal I – 2015, menurut catatan AC Nielsen, Indofood membelanjakan Rp 241,2 miliar.

Pada 2013-2014, volume impor gandum Indonesia mencapai 7,4 ton atau setara US$3 miliar.

Untuk menghasilkan satu ton tepung terigu dibutuhkan impor gandum sebesar tujuh juta ton. Penyerapan tepung terigu terbesar adalah produsen mi yang mencapai 55 persen, sedangkan produsen roti sebanyak 22 persen dan biskuit 18 persen.

Benarlah apa yang tertulis di dalam Al Qur’an Surah Abasa: 24 agar manusia tidak memandang sepele persoalan pangannya. Allah berfirman, “Maka hendaklah manusia itu mencermati makanannya!” (sed)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top