Warkop-98

Menteri Susi Bongkar Borok Kelautan dan Perikanan di Indonesia, Ini Buktinya!


9 August 2016, 15:34
Dilihat   2.2K

Nusantarakini.com, Jakarta-

Hari ini sedang ramai menjadi pembicaraan di group-group Whatsapp terkait tulisan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti yang mengungkap berbagai realita yang ada seputar kelautan dan perikanan di Indonesia. Redaksi Nusantarakini.com menerima tulisan tersebut dari kontributor yang berasal dari group Whatsapp Professional Jakarta I Gaharu. Berikut isi tulisan selengkapnya:

 

Suara Susi Pudjiastuti Untuk Anak Bangsa

Hampir dua dekade Penanam Modal Asing (PMA) diperbolehkan investasi 100% di Perikanan Tangkap.
Departemen KKP keluarkan ijin tangkap untuk kurang lebih 1300 kapal dari China, Thailand, Taiwan, Jepang dan lain lain. Kapal kapal tersebut ada yang masuk PMA murni karena boleh 100% asing dan ada PMDN dan atau join venture. Sementara Pengolahan di wilayah barat , investasi asing maksimal 40% dan di Timur maksimal 67%.

Dari sisi ini kelihatan peraturan investasi ini memang Pro Ilegal fishing, bawa kapal dari luar negeri , bikin pabrik pengolahan abal-abal , tangkap ikan, transhipment di tengah laut, bawa pergi ikan ke negeri masing-masing dengan kapal-kapal Tramper mereka yang berukuran 1000 GT sd 10000 GT.

Yang ternyata juga terjadi adalah 1300 ijin kapal tangkap diduplikasi. Realitanya lebih dari 10000 ( sepuluh ribuan lebih) kapal ikan dari negara negara tetangga , menangkap ikan di laut kita. Jumlahnya Beberapa Ribu bahkan tanpa ijin sama sekali.

Lautan Indonesia telah menjadi zona bebas mengeruk uang tunai berupa ikan, udang dan lain-lain dari dalam laut dan juga sekaligus dimanfaatkan sebagai tempat penyelundupan tekstil, miras, narkoba dan lain lain .
Selain mengambil ikan dll dari laut Indonesia , mereka juga membawa binatang-binatang langka seperti burung kakaktua, buaya, penyu, cendrawasih dan lain lain.

Perikanan Indonesia dari tahun 2003 s/d tahun 2013 , kehilangan 115 pabrik pengolahan yang tutup maupun bangkrut karena tidak ada bahan baku, semua dicuri.

Dan Rumah tangga Nelayan berkurang 50% dari jumlah 1.6 juta menjadi tinggal 800 ribuan. Hidup sebagai Nelayan tidak lagi bisa mencukupi.
Contoh di Cirebon , 15 s/d 20 tahun yang lalu, udang dalam satu malam ratusan ton. Cilacap 50 s/d 100 ton/ hari. Pangandaran 10 s/d 50 ton per hari. Semua hilang, sampai dengan 2 tahun yang lalu ada 1 ton sudah banyak.

Nelayan yang masih sisa mencoba dengan segala cara untuk bisa hidup, destructive fishing memakai portas, bom, cantrang/trawl.

Pemerintah Indonesia hanya dapat maksimal Rp 300M PNBP KKP dan itupun juga separuh dari kapal-kapal dalam negeri. Pajak hampir tidak ada.
Memang ada beberapa pengusaha, tokoh masyarakat, pejabat , aparat dan lain yang dapat fee dari kegiatan bisnis Penangkapan ikan kapal-kapal asing. Mereka inilah yang dua tahun tidak dapat lagi itu fee atau komisi pengamanan kegiatan penangkapan ikan secara ilegal. Mereka terus mencoba dengan segala cara. Semua pintu diketuk. Organisasi dipakai untuk teriak kepentingan yang terganggu. Akademisi di pakai dan disuruh menganalisa secara ilmiah untuk mempertanyakan kenapa sekarang pemerintah membuat investasi penangkapan ikan tertutup untuk asing. Dan membuka investasi pengolahan diperbolehkan sd 100% untuk asing.
Karena inilah yang benar dan sesuai dengan misi pemerintah menjadikan laut Indonesia adalah masa depan bangsa.

Dua tahun perang terhadap ilegal unreported dan unregulated fishing dilakukan. Dimulai dengan Peraturan Menteri moratorium untuk kapal kapal ex asing 2×6 bulan dan pelarangan transhipment. Analisa dan evaluasi dilakukan. Pada akhirnya perikanan menyumbangkan pertumbuhan PDB akhir tahun 2015 menjadi 8.96% Hampir 2x dibanding sektor lainnya.

Nilai tukar nelayan di tahun 2014 september hanya 102 naik di awal tahun 2016 mencapai 110. Harga ikan juga menyumbangkan deflasi 0.42% atas harga ikan yang cenderung turun. Pasar-pasar becek sekarang ada ikan, warteg juga jualan ikan. Subtitusi yang benar untuk kebutuhan protein bangsa kita pada saat impor daging begitu besar dan sangat mahal harganya.

Thailand terpuruk PDB perikanannya (pertama kali minus PDB perikanannya. Begitu juga yang lain).
Semua itu mestinya menyadarkan kita Indonesia bisa dan mampu dan Kita punya.

Saya yang memiliki pendidikan terendah di jajaran anak bangsa, merasa bangga mengatakan dan menyatakan hal ini. Dan saya berani untuk tetap mempertanyakan kepada siapa saja tentang Investasi Asing di Perikanan Tangkap yang sudah pernah ada di negeri ini. Silahkan siapa yang mau menyebutkan Perikanan Tangkap Asing itu siapa? Dari negara mana ? Perusahaan apa ? Apa yang telah diberikan kepada negeri ini? Apa yang telah diambil, ayo angkat tangan, sebutkan nama anda, perusahaan? Berapa nilai ekonomi negeri yang anda berikan ? Saya akan cermati!!!!!

Wassalam

Susi Pudjiastuti
Menteri KKP (*mc)

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!